Senin, Februari 09, 2015

Lanka….. Lanka.…. Lanka.…. (Second Chapther….)

Setelah semalaman berguru dengan Derek, Backpacker asal Filipina yang sudah menjelajah Sri Lanka selama 2 bulan, pagi ini kami pun memantapkan hati untuk moving on dari Colombo ke Kandy.



Kandy, Sri Lanka



Menurut Derek, 3 hari ke depan bisa kami pakai untuk menjelajah Sri Lanka tengah, dimana disana ada sebuah kota bernama Kandy, yang menurut Derek adalah kota yang nyaman, Indah, tenang dan juga terdapat sebuah Kuil Sakral yang konon menyimpan gigi asli Budha bernama Relic of the tooth of the Buddha atau Temple of the Tooth atau Sri Dalada maligawa atau Temple of the Sacred Tooth Relic. Apapun namanya, kuil ini adalah salah satu kuil wajib yang musti di kunjungi oleh wisatawan dan peziarah Buddhist di Sri Lanka.

Jam 8 pagi dengan menenteng ransel yang masih 5 Kiloan di punggung, kami pun menyetop sebuah bus dalam kota, ke arah terminal tempat ngetemnya berbagai bus yang salah satunya menuju Kandy. Ditengah jalan, bus kota yang kami tumpangi sempat2nya menyenggol seonggok bajaj. Supir bajaj yang berkumis  tebal dan bermata melotot itu ngomel2 ke supir bus dalam bahasa tamil, persis kayak film-film India.... di iringi  lagu up beat india yang sedari tadi diputar sepanjang perjalanan… Full of Drama....

Sesampainya di terminal, Bus ke Kandy ternyata bukan seperti bus AC antar kota di Indonesia yang nyaman dan ada kamar mandinya, tapi bus antar kotanya masih sama persis dengan bus dalam kota yang tadi kami tumpangi, bahkan lucunya bus antar kota ini juga di tumpangi oleh banyak anak sekolah. Saking penuhnya, orang2 pun sampai berdiri di sepanjang gang di dalam bus, untungnya kami sudah dapat tempat duduk mengingat lama perjalanan Colombo - Kandy sekitar 3 jam (kata derek).

Selama perjalanan Colombo - Kandy, bus ribuan kali (saking seringnya) menaikkan dan menurunkan penumpang yang membuat waktu tempuh menjadi molor ke 4 jam. Ternyata penumpang bus tidak semuanya ke Kandy, anak2 sekolahan tadi silih berganti naik turun bus, bahkan di tengah hutan sekalipun ada anak sekolahan yang memberhentikan bus kami untuk sekedar menumpang, dari yang (mungkin) masih kelas 1 SD sampe yang udah SMA dengan bentuk fisik yang beragam. Ada yang putih dengan hidung mancung ala india dan mata belok, ada juga yang hitam tamil dengan perawakan agak jangkung dan kurus, dan mereka semua wangi2. Wanginya bukan semacam wangi parfum, tapi wangi rempah2 alami entah apa itu namanya.

Pemandangan selama perjalan Colombo - Kandy berubah2, dari kota kecil semacam kabupaten dengan rumah2 yang jarang2 menjadi semak belukar - perkebunan karet - tebing - sampai masuk perkampungan lagi. Hampir disetiap simpang dan sudut jalan terdapat patung Budha atau Dewa Hindu bahkan Bunda Maria dalam sebuah tempat semacam rumah kecil, patung2 itu terkadang di hias dengan kain, bunga2 dan sesajen. Sampai akhirnya kami masuk di sebuah kota yang suhu udaranya rendah dan berbukit. Akhirnya sampailah kami di Kandy, kota yang sepertinya menyimpan banyak cerita dan mengundang banyak turis untuk datang.

Baru turun dari bus, wajah kami yang Asia Tenggara dan oriental di serbu abang2 bajaj. Untungnya hotel yang akan kami tumpangi (sesuai saran Derek, lagi2 derek) berjarak 5 kali salto. Jadilah abang2 bajaj lain cuma berani menyapa 'ni hao.... ni hao'. Dikiranya semua orang berwajah Asia itu Chinese kali yah.

abang bajaj

Hotel kami persis berada di pinggir jalan dan sebelahan dengan 'Kuil Gigi'. Hotelnya merupakan bangunan tua yang bergaya kolonial. Kamarnya berkelambu (konon kabarnya nyamuk di Sri Lanka segede gaban) dan lantainya kayu. kebetulan kami dapat di lantai 2 dan ada terasnya, kamarnya besar dilengkapi dengan 1 lemari kuno persis di film2 horor, mungkin kalo gak ada tamu lemarinya bisa jadi tempat sembunyinya Annabelle. Terlepas dari semua kekunoan kamarnya, ada satu hal yang aku cermati. Karena lantainya kayu, maka setiap ada yang lewat pasti berdecit. Kalo decitannya berulang2 dan seirama, mungkin ada pocong lagi lompat tali.... (tapi waktu itu kamar sebelah gak kosong dan gak ada pocong di Sri Lanka, yang ada disana adalah sepasang bule disana yang check in bareng kami... lalu bagaimana sepasang bule itu bisa membuat decitan tersebut menjadi seirama? Ini adalah sebuah tanda tanya besar.....)

Siang itu selepas check in, kami segera melipir mencari makan siang. Berhubung Kandy ada di dataran tinggi yang cuacanya sejuk, nafsu makan otomatis langsung memuncak.  Baru keluar hotel, kami tergoda oleh suara2 musik yang berasal dari dalam kuil gigi. Menurut informasi dari resepsionis hotel, itu merupakan latihan opera untuk pertunjukkan nanti malam. Sayangnya, tiket di banderol lumayan mahal untuk kantong backpacker. Mungkin karena kuil ini merupakan salah satu yang di akui UNESCO sebagai warisan dunia. Jadilah kami menghemat duit dan intip2 isi kuil dari gugel saja  serta tour de kuil gigi kami cancel dari list, berharap next time bisa betulan kesini lagi.

Sambil mencari tempat makan, kami menyusuri  pinggiran Kandy Lake yang tenang dan banyak menyimpan misteri. Diseberangnya terdapat bangunan peninggalan kolonial yang serakang sudah dialih fungsi menjadi hotel, restoran dan toko souvenir. Kota Kandy yang sejuk, berpadu dengan banyak bangunan kuno menjadi kombinasi yang pas. Seolah2 kota ini tidak berubah banyak dari masa ke masa.


Kandy Lake, from View Point

Kandy City, from View Point
Tampang ‘turis’ kami banyak mengundang orang lokal untuk curi2 pandang. Sumpah, mungkin seperti inilah perasaan turis2 bule waktu ke Pekanbaru, di curi2 pandang sama orang, berasa jadi artis mendadak. Cuih. Salah satu orang lokal yang berani nyamperin adalah bapak2 yang bahasa inggrisnya lancar dan ramah. Awalnya beliau menceritakan sejarah danau Kandy yang sengaja di buat untuk irigasi dan budi daya ikan, namun ujung2nya beliau menawarkan tiket untuk menonton pertujukkan nanti malam di dalam kuil dan mengaku kalau dia salah satu ‘guru’ yang mengajarkan anak2 didalam beratraksi. Sambil jalan kearah pasar kami pun terus diikuti. Curiga dengan gelagat beliau, kami pun menghindar masuk ke KFC. Selesai makan di KFC yang di menunya gratis salad kol dan wortel cincang (secara kebanyakan orang tamil vegetarian) dengan saus kari dan mayonnaise, kami pun terpaksa keluar sambil ngumpet2 karena si bapak tadi masih setia duduk menunggu kami di depan resto Colonel Sanders ini. Ampun dah….

Kami terus berlari2 kecil menghindari bapak tadi yang sepertinya sadar kalo kami sudah kabur, dari kejauhan kami lihat beliau sedang celingak-celinguk ke dalam KFC. Untuk menghilangkan jejak, kami pun masuk ke pasar yang sore itu masih ramai. Pasar tradisional itu menjual bermacam barang, mulai dari pakaian, sari, sarung, mainan anak2, bunga dan peralatan sembahyang, sampai hp batangan yang di hampar diatas terpal. Unik.

Kandy City


White Buddha


Dari kejauhan kami melihat sebuah Kuil diatas bukit yang akhirnya kami tempuh dengan berjalan kaki. Beberapa supir bajaj menawarkan angkutan dan tour, namun mengingat penghematan dan membuncahnya jiwa petualang, kami pun tetap teguh pendirian untuk jalan kaki. Alhasil, kuil yang terjal itu pun kami capai dalam waktu hampir 1 jam. Fuih… Namun semua daya dan upaya untuk mendaki bukit ini berbuah pemandangan manis. Dari sana tersuguh kota Kandy yang aduhai dengan danau dan Kuil yang mulai gemerlap diterangi kerlipan lampu karena hari sudah mulai gelap. Takut kemalaman dan bertemu atau di patok ular kobra, kami pun kembali ke hotel setelah puas berfoto2 dan bertanya2 dengan para biksu tentang sejarah kuil itu. Kuil itu entah apa namanya, tempat bersemayam patung budha Raksasa berwarna putih. Jika mau, kita bisa memanjat hingga punggung Budha dan menikmati keindahan kota Kandy dari atas sana.

Ingat tadi sempat melewati  bangunan kuno yang sudah alih fungsi, kami pun sempatkan memborong berbagai macam souvenir unik khas sri lanka (brand ODEL) dengan harga lumayan murah disana. Mulai dari gantungan kunci, Fridge Magnet, kaos, pena, mini mug, dompet dan yang paling wajib adalah the dilmah dengan berbagai macam aroma dan rasa dengan harga lokal. 1 Kotaknya yang di Indonesia bisa mencapai ratusan ribu, disana bisa dibeli dengan harga miring. Bahagianya.


third chapter......

2 komentar:

fetry mengatakan...

Bang Rico, ini chapter kok lama bener publish y, udah setahun bang, hehehe..
salam kenal.


thesundayjob.blogspot.com

Rico Chandra mengatakan...

hi mas fetry..... iya nih..... sibuk banget.... doain third chapternya gak lama ya... hehe... salam kenal.... salam traveler...