Tampilkan postingan dengan label journey. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label journey. Tampilkan semua postingan

Kamis, Desember 04, 2014

Santai.... Kayak di Pantai..... (Sawassdee, Phuket...)

Siapa yang gak kenal Phuket. Sejak Leonardo Di Caprio syuting film The Beach di Phi Phi Island, mendadak Phuket menjadi sorotan dunia ngalah-ngalahin Bali. Setiap dengar ada teman yang baru pulang liburan dari Phuket, kedengarannya lebih keren dari pada abis honeymoon di Bali. Soalnya, Bali seolah2 jadi biasa aja..... Seolah2 jadi tempat buat Sejuta pasangan 'kaya' dan 'baru kaya' buat fak2an (baca: Honeymoon) setelah ijab kabul.

http://azmanphoto365.files.wordpress.com/2012/11/phuketmap.jpg


Sejak ngerti gimana caranya hunting tiket murah dan berniat menjelajah tanah orang lain, harga tiket ke Phuket via Kuala Lumpur dari World's Best Low-Cost Airline AA selalu menggila. Setiap ngecek musti harganya diatas 200 USD PP. Namun berkat doa dan pengharapan serta usaha yang tiada hentinya, akupun berhasil menghadiahi ulang tahun ku sendiri dengan trip Liburan ala Backpacker ke Phuket, Thailand.

Bukannya sombong, Alhamdulillah sejak punya uang sendiri, aku selalu usahakan buat cuti dan liburan (menghibur diri) ketika ulang tahun. Jauh dari teman dan keluarga yang dulu2nya pun cuma ngucapin ulang tahun tanpa ngasih kado (ngarep banget di kasi kado). Ada sih yang ngasih kado, tapi belum ada yang ngasih kadonya itu tiket traveling,,, jadilah aku sendiri yang kasi ke diri sendiri (ibo). 

Tahun 2011 ke Bangkok (baca disini), tahun 2012 ke Sri lanka, tahun 2013 ke Penang dan tahun 2014 ini ke Phuket. Ini semacam ritual ulang tahun yang aku coba sempat2kan traveling sekaligus untuk bersyukur sebanyak-banyaknya ke Tuhan dan berdoa semoga di umur-umur berikutnya pun bisa aku pakai untuk mengeksplorasi kekayaan alam-NYA lewat traveling. (sok religius).

Berbekal tiket 70 USD dengan rute PKU-KUL-HKT-KUL-PKU aku pun menghabiskan 9 hari liburan di Phuket. Mungkin ini lebih tepat dibilang plesiran ala backpacker ketimbang jalan-jalan. Kenapa begitu, karena eh karena... kalo jalan2 atau traveling ala backpacker ku sebelumnya, selalu diburu2 waktu dan diburu2 itinerari yang udah disusun sedemikian rupa dengan budget yang luar biasa minim. Sebenarnya sih tujuannya tetap sama yaitu dapat cap paspor, wisata dan poto2, tapi kali ini bisa dibilang lebih sakral karena ditambah dengan waktu leyeh2 di pantai, tanpa schedule yang rapat. Artinya, tetap ada schedule tapi gak musti di ikutin mentok-mentok..... ya santaiiii...... kayak di pantai.......

*********

Arrival Gate, Entering Phuket..
Setelah lebih dari 7 bulan menunggu, akhirnya pesawat icon liburan murah itu mendarat di Phuket Int'l Airpot di kawasan  Mai Khao sebelah utara Pulau yang di juluki "Pearl of The Andaman" ini. Dengan jarak sekitar 30 KM dan estimasi waktu perjalanan 30 - 45 menit, aku lebih memilih menunggu satu2 nya Airport Bus yang beroperasi disana ketimbang naik taxi yang harganya bisa 3-4 kali lipat. Walau naik taxi adalah pilihan yang bagus sekaligus mewah, tapi aku bertahan untuk tidak tergoda oleh abang2 dan bapak2 driver yang menawarkan tumpangan ala James Bond dengan mobil Camry, Fortuner, Mercy dengan harga tumpangan yang murah untuk ukuran mobil mewah. (Mungkin kalo kalian ada rencana traveling lebih dari 3 orang, gak ada salahnya buat sum-sum naik taxi ala Phuket itu, secara jatuhnya sama dengan naik bus kalo dibagi 3/4 orang)

Sekitar 30 Menit kemudian, bus Oranye yang mengangkut rombongan wisatawan dari Phuket Town tiba dan disusul dengan serbuan kami, para pelancong kere  yang keukeuh ingin liburan di Phuket. Tiketnya di banderol seharga 100 Bath (saat itu kurs 375 dan USD sekitar 12.200) dan di kondektur-i oleh tante2 berwajah jawa tapi berbahasa Thai dan bisa sedikit berbahasa Inggris dengan logat Thai yang bikin kita mengernyitkan dahi dan berkata... 'ooo.... whaaat??? you say whaaaaaat???' (ala slang amerika).

"Please Drop me at Central" kataku. "Oke, oke, senta na... oke oke" jawab si tante kemudian melanjutkan kalimatnya yang berbahasa Thai seperti nanya sesuatu dan aku pun balas jawab dengan bahasa jawa tegal-brebes, "Yooo, mamake,,,, inyong gak ngerti.... mamake ngomong apa, kepribeeen..." dan tentunya itu cuma dalam imajinasi. Lalu aku dengan elegan menjawab, "Sory ma'am, i dont understand, speak English please...". Dan akhirnya dengan tegas dia menjawab "wan hanlet bath.... wan hanlet, wan hanlet,,,". Sialan, kirain dia nanyain 'kamu dari mana sih ganteng, kok ganteng banget, selamat liburan di Phuket ya, ganteng' dalam bahasa Thai-nya tadi. Dan 100 Bath pertamaku pun melayang ke tangan tante2 yang cuma mau duit itu doank. 

Loh kenapa turunnya di Central? bukan di Phuket town. Ini intruksi dari teman couchsurfing-ku yang kebetulan hari itu janji mau jemput sepulang dia kerja, tadinya mau jemput di Bandara, tapi karena aku mendarat jam 2 siang, jadilah aku disuruh nunggu dia di Central. Central merupakan salah satu Mall yang lumayan lengkap di daerah timur pulau Phuket dan hampir masuk kawasan Phuket Town. Jadilah, aku menanti Gott di Mc Donald dan beruntung bisa makan Pineapple Pie (yang baru pertama kali aku temui) dan memfasilitasi diri dengan wifi gratis (wifi gratis itu segalanya di saat kita roaming begini, percayalah. Kalo aku siiiih,,,,,, wifi segalanya itu adalah demi bisa pamer ke teman2 di social media, kalo aku lagi di LUAR NEGERI, LIBURAN!!!! ehm....).

Sekitar 1 jam kemudian Gott muncul sumringah dan hospitable... setelah basa-basi (tanpa cipika cipiki), kita pun menuju Phuket Town yang ternyata cuma 10 Menit perjalanan. Gott bercerita tentang pariwisata di Phuket, tempat wisata yang musti aku kunjungi dan makanan yang musti aku jajal selama disana. "If you want to eat, you can going to moslem restaurant, there is alot in Phuket Town. Just find this logo, it is gonna be moslem food, no pork...." katanya sambil nunjukkin logo bulan sabit dan bintang warna merah dengan Bahasa Inggris yang excellent untuk seorang Thai. 

Roti with Egg and Cury dan Miyuk Ti Thai Ice
Sambil makan Roti with Egg and Cury (Roti Canai pake telor mata sapi) dan Miyuk Ti Thai Ice (Milk Tea Thai Ice), kami pun mendiskusikan kemana dan dimana serta berapa. Dalam waktu 1 menit, Gott akhirnya berkata, "just let it flow, Phuket is Easy, you can go everywhere in one day, just relax and rent a motor bike". Damn! Teman lokal macam apa dia, kalo gitu doank sih aku juga ngerti. Tapi setelah beberapa hari berkelana aku baru sadar kaya2 Gott ada benarnya, untuk kelas traveler kere, yang dibutuhkan di Phuket memang cuma santai dan motor bike...... true!!
 
Sesuai saran Gott (yang hari berikutnya kudu kerja) aku pun merental motor untuk pelesir. 200 Bath untuk motor akhirnya jadi free karena aku dengan sengit menawar sekaligus dengan paket Phi Phi Island One Day Tour untuk hari setelah hari berikutnya, bahkan tournya sendiri di diskon. Alhamdulillah. (fyi: Harga Standar One Day Tour to Phi Phi Island saat itu 1200 Bath, 4 Stop Islands for Snorkel and Selfie2, Lunch Box plus Cofee dan Fresh Tropical Fruit, Snorkel Equipment plus picked up at Hotel). Ya, karena sesuai brosurnya harus jemput di Hotel, maka aku pun bingung.... ini dikarenakan aku stay the night-nya di hostel, jadilah pagi2nya aku terpaksa minta jemput di Travel Agen saja....hahahaha (note: Hostel-ku and Travel Agent-nya is sebelah-sebelahan) #gagalmelucu

Jam 7 Pagi aku udah ready nongkrong di depan hostel menanti bapak travel agen yang baik hati itu buka toko. Beberapa menit kemudian dia muncul sambil nyengir di depan tokonya sambil kasi kunci motor TTX X-Force (motor otomatic mirip Honda Beat) dan sebongkah Helm sambil nanya, "yu ken rai motobai???" trus bilang "plissss sef drai fo mi". (You Can Ride Motor Bike? Please Safe Drive For Me). Kalimat Bahasa Inggris yang anti grammar sekaligus kaya akan logat Thai yang nyentrik dan justru menyentuh kalbu-ku seketika. Seumur-umur gak ada orang yang pernah minta hati2 bawa motor dengan tambahan kata... DEMI AKU.... sebelumnya! Sialnya Loong (uncle) yang mengaku namanya Bobby ini yang pertama kali bilang. Fakdemsyit but Kob Khun Krub Loong....... I Promise..... jawab ku lantang sambil mengecup keningnya (hoeks...), keningnya Natasha Nouljam lah,,,, (Aktris Thai yang main Suckseed).

And The Adventure Begin!
Bermodal bensin yang di beli 80 Bath (waktu itu seliternya 34 Bath) di SPBU Shell dan memegang teguh peribahasa 'Malu bertanya sesat di hati Mantan' aku pun menuju Patong Beach dengan Rute: Phuket Town -  Rawai Beach - Promthep Cape - Kata Beach - Karon Beach - Patong Beach - Phuket Town.

Coast To Coast....
Tank Top, Celana Pantai, Kaca Mata hitam, Air Mineral dan Sunscreen siap membantu perjalanan ini. Satu yang aku sesali karena lupa bawa, yaitu: KOLOR. Lupa membawa kolor salin adalah bencana nomor 15 dalam list 'the most worst thing to forget at the Beach'. Mengkeruttt boyyyyy...... mengkeruuuuuuuuttttt!!!!!!!

Perjalanan dari Phuket Town ke Rawai Beach lumayan menantang. Selain musti menyusuri jalan besar semacam High Way, juga melewati tanjakan dan turunan yang menantang, pokoknya udah kayak ninja Hatori-lah.... mendaki gunung,,, lewati lembah..... Sesekali terlihat pemandangan laut luas dan pantai yang tersibak dari balik pepohonan. Makin ke selatan Pulau, makin eksotis pemandangan yang di sungguhkan alam Phuket. Sampai akhirnya aku tiba didepan papan petunjuk yang tertulis Rawai Beach dalam tulisan Latin dan Thai. Hati senang dan gembira tak terkira ketika tujuan pertama sudah hampir terpenuhi, tiba2 pupus melihat pantai yang seupil dan biasa aja..... kesyeeeeelll........... beberapa bule yang juga berbondong2 pakai motor sewaan (sejujurnya agak aneh ngeliat bule naik motor bebek, dengan badan jangkung dan helm jelek) juga datang dan pergi nanya dimana beach-nya???? Mana?????? 

Bagi aku yang orang Pekanbaru, hidup dan lahir jauh dari Pantai dan laut (liat lah peta, dimana Pekanbaru terletak di tengah2 Sumatera dan jauh dari Pantai dan laut, kami musti jauh2 ke Padang buat liat pantai. -Curhat) pantai yanga ada dalam benak ku itu, harus ada pasir yang putih, landai dan ada gelombang ombak  yang berkejar-kejaran. Aku heran kenapa Rawai Beach yang lebih seperti dermaga itu disebut Beach. Strange!!!! Aku kecewaaaaa..........! Bitchhhhh!!!!!!

Promthep Cape yang aduhai...
Walau sedikit kecewa, Perjalanan pun tetap dilanjutkan ke Promthep Cape dan kekecewaan pun terbayarkan. Tanjung Promthep mungkin salah satu view point yang luar biasa di Phuket. Selain kita bisa lihat pemandangan laut Andaman yang luas, kita juga disuguhi alam yang indah nan elok. Alhamudulillah lah pokoknya. Setelah puas jalan2 disekitar Promthep Cape dan poto2 sebentar akupun dengan semangat melanjutkan perjalanan ke Kata Beach. Tapi beruntungnya menjelang jalan ke Kata Beach,  ada beberapa Pantai yang aku bisa sambangi dan sempat2nya menggoda aku untuk berenang kecipak-kecipuk main-main ombak bersama mbak2 dan mas2 bule yang cuek bertelanjang dada dan berbikini ria. Ada juga beberapa oma2 dan opa2 bule yang tergeletak lemas tak berdaya, tiduran menantang matahari demi menghitamkan kulit. Udah setua itu, mereka pun masih berharap punya kulit tanning (walau berkeriput) yang sekonyong2 cuma memerah di sekujur tubuh mereka. Jadilah mereka manusia dengan kerut2 merah di sekujur tubuh, matang oleh teriknya matahari Phuket.

Belalai...
Sedang enak2nya menikmati perjalanan ke Kata Beach, di pinggir jalan aku melihat sekawanan gajah berbaris. Ada yang santai mengunyah rumput di mulutnya, ada yang geal-geol joget-joget sendiri sambil sesekali melambai-lambai kan belalai dan mengepak-ngepakkan kupingnya yang besar. Aku yang jarang2 melihat gajah langsung pake mata telanjang (mata dan telanjang) pun seketika berhenti dan dengan sigap selfie. Setelah dipikir2, seandainya gajah-gajah itu ngamuk dan menginjak aku dengan kakinya yang raksasa, mungkin kalian sedang bukan membaca tulisan ini sekarang, tapi lagi nonton on the spot dengan judul 7 wisatawan Indonesia diluar negeri yang mati di injak gajah.

Kata Beach adalah pantai yang lumayan terkenal di Phuket selain Karon dan Patong. Pantai ini mempunyai lengkungan garis pantai yang lumayan panjang dengan ombak yang biasa2 aja dan pantai yang gak terlalu landai tapi berwarna turqois dan ramai bule2 berbikini menjemur tubuh dan harga diri mereka di depan publik. Mirip dengan Karon Beach yang bisa ditemui sekitar 5 menit naik motor. Aku bersyukur bisa menceburkan diri di pantainya yang tidak terlalu asin dan ombaknya yang tidak terlalu tinggi. Minimal bisa bawa telor asin lah ke hostel. (ciye,,,, situ mikirnya porno.... emang disana ada yang jual asinan telor ayam kok!!!!)

Some Russian Roulette....
Sepanjang jalan dari Kata Beach ke Karon Beach, banyak ditemukan hotel, guesthouse/ hostel, rumah makan non halal, rumah makan muslim, rumah makan bertulisan Russia dan cafe2 tempat traveler mancanegara kongkow. Aku sempat berhenti makan siang di salah satu restoran muslim yang menyediakan makanan khas Thai. Menu yang aku pilih waktu itu Tom Yam Seafood dan Es Jeruk Nipis. Sedap, segar dan beraroma pantai....... berasa banget liburannya.

Kenyang makan Tom Yam dan dengan gak tau diri minta diisikan air minum di botol yang aku bawa, akupun lanjut ke Karon. Sebelum sampai di Karon, kita akan di melewati Karon View Point. Karon View Point adalah puncak bukit yang menyajikan pemandangan garis pantai Karon yang aduhai. Menyegarkan mata dan Emenjingggg lah pokoknya......
tom yum, karon view point, and me at random beach...



Patong Beach.....
Bagi beberapa temanku yang udah pernah guling2 di Patong Beach, Pantai ini adalah pantai yang mereka bilang paling ramai dan paling happening. Ketika aku masuk wilayah Patong, memang suasana yang disajikan di Patong jauh berbeda dari Pantai2 sebelumnya. Sepertinya pemerintah kecamatan Patong Raya memang niat membenahi wilayah yang memang paling cantik di sisi barat Phuket. Selain dijejali banyak toko makanan, toko aksesoris, toko souvenir, hotel dan pub2 kelas atas, jalanan di Patong pun dihiasi pavin block yang seragam berlogo-kan dan bertuliskan Patong Beach. Selain itu, memang ombak dan gelombang di Patong lebih menantang, juga terdapat banyak jetski yang bisa di sewa dan permainan pantai lain seperti boat para sailing. Senangnya, parkir motor di sekitar pantai-pantai di Phuket ini free tanpa ada abang2 tukang parkir yang recok minta seribuan. Pokoknya...... menyenangkan................... kalo kita liburan tanpa diganggu tukang parkir. 

Begini nih, suasana di Pantai Patong:
love this beach much, Patong beach, Phuket, Thailand

Patong Beach Side Walk

more space on beach, lets get naked...

Santai... Kayak Di Pantai.........


Disekitaran pantai, ada beberapa jajanan yang musti kita coba, salah satunya Banana Pancake. Harga seporsi Pancake berisi buah2 dan coklat Nutella di banderol 100 Bath. Selain Banana, Juga bisa diisi dengan Mango, Keju, Nenas, Telor dan Kelapa Muda. Nih.... Kalo aku lebih waktu itu minta di kombinasi Banana and Mango serta Coklat Nutella. Enaaaaaakkkkkkk.................
Uncle Pancake!!!!!

Voila...... Banana Mango Pancake!!!!


To Be Continued......... 

Senin, Januari 07, 2013

Lanka..... Lanka..... Lanka..... (first chapter....)

2 hari sebelum keberangkatan, aku pamitan seperti biasanya. "Senin cuti ma, jadi Sabtu ini mau ke KL dulu....". Trus mama nyahut "mau kemana lagi?". "Sri Lanka" mama shock sambil bilang "Haah,,, Jangan lagi kesana... Kan disana sedang perang". Papa yang lagi asik2 makan ngebela "ndak... Udah lama damainya..... Berapa hari di Sri Lanka tu?". "4 hari, Minggu berangkat". Papa curiga " trus kemana lagi (sisa harinya)?" Aku bilang "Kamis transit di KL langsung ke Vietnam" dan reaksi papa adalah.... "Kok ke Vietnam..... Jangan... jangan.....Vietnam kan masih perang......" *akulangsungpingsan

Ayubowan means Selamat Datang.....

Setiap Traveling... aku selalu minta ijin dadakan... ini karena, tak lain dan tak bukan supaya bapak dan emak ku gak perlu mikir panjang buat ngasih ijin. Sebenarnya sih 99% bakal dikasih ijin. Tapi, kategori ngasih ijinnya itu bisa dibagi2 lagi, menjadi ijin doank dan ijin dengan embel2. Embel2 disini bisa titipan oleh2 atau titipan duit Milyaran yang musti aku habiskan pas traveling. Nah... berhubung aku bukan pemboros harta kekayaan keluarga sendiri, jadilah aku mengambil option untuk bilang dan minta ijin dekat2 hari kalau mau pelesir.

Sejujurnya sih, gak gitu2 amat ya.... minta ijin mendadak itu sebenarnya karena rentang waktu beli tiket dan waktu keberangkatannya bisa sampe satu tahun. Soalnya, aku selama ini selalu bergantung sama tiket promo AirAsia yang murahnya selangit dan seangkasa. Kan, gak lucu kalo aku minta ijin berangkat jalan2 nya setelah booking tiket alias 1 tahun sebelum keberangkatan. Jadilah makanya 2 atau 3 hari sebelum flight, aku baru bilang. Awal2 keluarga kaget dengan jalan2 mendadak ala ricodecoro ini. Tapi, berikutnya cuma direspon dengan kalimat: "Jalan2 lagi???". Atauuuu,, "Jalan2 teruuuuussss!!!!!" 

Ini adalah pelesir backpacking terlama ke dua setelah Manila (baca: Manila.. Oh.. Manila the Series) karena bakal menghabiskan cuti 5 hari dari jatah cuti yang cuma 7 akibat hak cuti yang 12 hari udah dipotong 5 hari cuti bersama (nasib company slave...). Dan sudah jauh2 hari pula tanggal keberangkatan ini aku dambakan, ditambah dengan perasaan nervous gila2an mulai dari H-10 sebelum keberangkatan. Nervous lebih karena persiapan yang minim karena info backpackingan ke Sri Lanka yang juga minim serta dalam trip ini bakal ada trip tambahan ke Vietnam yang tadinya gak masuk list. Jadi, aku musti punya dobel ittenerary yang berarti dobel gugling dan dobel hunting2. Itu sama seperti punya pe-er Matematika dan Fisika yang musti dikerjain sekaligus dalam semalam. Atau mirip seperti menghapal rantai Kimia sekaligus menghapal nama2 hewan dalam bahasa latin buat ulangan besok pagi. Menurut pengalaman jaman SMA, menghapal 2 ulangan mata pelajaran berat dalam satu malam itu sama artinya dengan makan nasi kucing trus minumnya baygon pake es. Mateeeek.... Maka dari itu, aku pun fokus lebih ke Sri Lanka ketimbang trip ke Ho Chi Minh City.
Inside Bandaranaike

Journey has starting.......
Seperti biasa, trip selalu bermuara di Pekanbaru.... aku berangkat hari Sabtu sore menuju LCCT Kuala Lumpur... Bandara yang tahun ini saja hampir 10 kali aku datangi... Saking seringnya, ketika nyampe di LCCT, seperti belum berasa diluar negeri.. (Cuih... sombongnyaaaaa........). Penerbangan menuju Colombo Sri Lanka kebetulan besoknya, yaitu hari Minggu jam 11 Siang. Itu artinya aku punya waktu sekitar 12 jam buat melipir pelesir ke tengah kota KL. Tadinya, Bukit Bintang adalah tujuan menginap sebelum kembali ke Bandara. Berhubung pengen suasana agak beda, jadilah aku dan seorang teman menginap di tunehotel di sekitar bandara. Hotel berkonsep murah meriah dan berapa pakai berapa bayar ini lumayan nyaman, apalagi dari jendela kamar kita bisa menyaksikan pesawat naik turun secara live 24 jam... tapi sayangnya, hari itu aku gak cukup beruntung. Soalnya, kamar yang aku pesan, jendelanya berhadapan persis dengan......... KEBUN SAWIT......

Lepas dari check in di tune, aku buru2 kembali lagi ke terminal LCCT. Bukan karena ada yang ketinggalan disana, tapi karena mau mengejar bus yang berangkat menuju tengah kota Kuala Lumpur. Tujuan utama sebenarnya Bukit Bintang. Kenapa Bukit Bintang, karena ada beberapa agenda yang musti aku lakukan di Bukit Bintang selagi transit ini. Agenda pertama adalah makan malam di Chee Meng, berikutnya adalah SHOPPING!!! (kenapa?? iri ya liat aku shopping di KL? haaa?? iriiii????)

Sejak pertama kali gak sengaja makan di Chee Meng maret 2012 lalu, aku jadi selalu pengen makan disana terus setiap kali ke KL. Menu andalan yang aku pesan setiap kesana adalah Nasi Ayam dan Limau Ais.... Simple!!!!

Seperti biasa, Aerobus berhenti di KL Sentral setelah keluar masuk jalan tol hampir 1 jam. Berhubung ke Bukit Bintang kudu pakai monorail, jadilah kita agak jalan keluar memutar dulu menuju stasiun monarail. Mungkin beberapa bulan lagi, jalan terusan dari terminal KL Sentral ke stasiun monorail bakal selesai dan menjadi lebih nyaman bagi pelancong yang dari KL perlu naik monorail ke beberapa tempat.

KL Sentral to Bukit Bintang ongkos nya RM 2.10 atau sekitar Rp. 6000an. 10 menit kemudiaaaan.... taraaaaaa..... sampailah kita di Bukit Bintang... yang dikenal sebagai tourist spot di Kuala Lumpur. Selain rame turis lalu lalang, Bukit Bintang juga dijejali banyak Mall dan Shopping Centre semisal Fahrenheitt, Pavilion, Sungei Wang, BB Plaza, Lot 10 atau Berjaya Times Square  yang berisi toko2 ternama luar negeri. Mulai dari Zara, Luis Vuitton, Uniqlo (brand populer asal jepang), Top Shop, Top Man, Dolce Gabbana, Gucci, H&M, Charles and Keith, Starbucks, Hush Puppies, Nixon and many more... (dibayar berapaaa guwe nyebutin merek2 ini coba.... hufft....)

Dan sayangnya, jalan di Bukit Bintang sedang ada konstruksi. Kabarnya bakal dibuat kereta api bawah tanah nanti disana. Let see beberapa tahun lagi...

Lepas turun dari monorail, kelihatan lah wajah Bukit Bintang yang elegan. Mall bertebaran disana sini. Mobil mewah lalu lalang. Orang sedunia lalu lalang. Jalur monorail membentang di awang2. Wajah kota yang modern dan penarik jutaan turis. I always love this city....

Dari sana... untuk ke Chee Meng, kita harus belok kiri sebelah sisi McD. Lalu terus jalan disisi jalan, sampai ketemu tempat makan sebelah kanan yang selalu ramai. Itulah Chee Meng.

Kenyang dan puas makan, aku langsung nerusin jalan ke Pavilion Mall buat belanja beberapa outfit. Setelah keliling beberapa tempat dan dapat satu Jacket dan sun glasses dari Uniqlo, celana panjang Chinos di Top Man, Celana pendek pantai dari Gap aku pun kembali ke tunehotel di LCCT Area buat istirahat karena pagi2 betul journey ke Sri Lanka bakal dimulai. (pamer belanjaan... *noraaaak....)

Sri Lanka.....
Malam di Malaysia itu selalu singkat, belum puas tidur tapi udah pagi aja. Untungnya pesawat ke Colombo di Reschedule Air Asia dari jam 8 pagi ke jam 12 siang. Jam 10 Pagi kita buru2 check out. dan siap2 melenggang ke terminal keberangkatan. LCCT pagi itu ramai. Lepas sarapan merangkap makan siang di McD, kami pun langsung ke ruang tunggu bandara. Menanti keberangkatan ke negeri yang entah bagaimana bentuknya disana....

3.50'' terbang melintas Sumatera dan Samudera Hindia. Akhirnya kami mendarat di Bandaranaike. Airport kebanggan warga Sri Lanka. Airport yang juga jadi tempat transit beberapa pesawat yang memberangkatkan jemaah haji. Keluar dari pesawat, langsunglah terlihat banyak hal yang biasanya cuma bisa dilihat di film2 india. Ada bule lalu lalang, orang keling yang mukanya ke India-indiaan, kakak2 pramugari yang pake sari dan perutnya keliatan.... ada yang langsing, tapi ada juga yang cuek dengan bodinya yang montok... hahaha... trus juga ada biksu berpakaian kuning kunyit berkepala botak jalan berkelompok. Juga ada rombongan turis yang sibuk berfoto2 sambil ngomong pake bahasa yang familiar tapi dengan kata2 yang aku gak ngerti. Salah satu dari mereka menyela aku dijalan minta fotoin dengan bahasa Inggris yang medok jawa. " Exkyus mi seer... wud yu tek awer pikcer??" katanya sambil nodongin kamera nya ke aku... "sure". jawabku mantap merasa gak dikenali sebagai orang Indonesia. Tapi tiba2 teman ku langsung nyalip omongan dan nanya ke mbak2 'inggris medok' itu "Orang Indonesia juga ya mbak" katanya... si mbak medok langsung kaget dan teriak ke rombongan "Oalaaaaah.... sa iki orang Indonesia juga reeek...." sambil cekikikan yang diikuti cekikikan yang lainnya secara berjamaah.
Cerita punya cerita, ternyata mereka adalah rombongan dosen dan mahasiswa dari Surabaya yang bakal ikut seminar di Colombo, tapi mau ke Negombo dulu jalan2, secara Negombo lebih dekat dari bandara dari pada Negombo. Singkat cerita, kami kenalan..... tau kami mau ke Colombo,  2 orang dari mereka ada yang nawarin tumpangan ke Colombo karena mereka gak jadi ikutan ke Negombo karena udah terlanjur minta jemput sama staff dari kedutaan besar Indonesia di Sri Lanka. Tanpa basa-basi dan gak menyia-nyiakan kesempatan tumpangan yang gak disangka2 itu. Tadinya sih sempat mikir, jauh2 ke Sri Lanka kok ya ketemu orang Indonesia juga.... taunya malah balik bersyukur banget ketemu mereka dan di tumpangi ke Colombo.... Itung2 hemat budget dan jaminan gak nyasar sampe di hostel dah pokoknya... So Lucky!!!

Akhirnya, mobil kedutaan besar Indonesia membawa kami dari Bandaranaike ke Colombo (gaya donk yaaaa.... di jemput secara kenegaraan sama kedutan besar Indonesia......... berasa pentiiiing gituuuu...) yang ternyata cukup jauh, hampir 1 jam 30 menit kami melintasi jalanan Sri Lanka yang berasa gak beda jauh kondisinya dengan jalan2 di kota Kabupaten di Indonesia. Jalanannya 2 lajur persis Indonesia dengan stir di kanan. Colombo sebagai Ibukota Negara Sri Lanka gak terlalu kelihatan metropolitan. Gak sesibuk Jakarta atau sesemrawut Manila, bahkan gak semegah Kuala Lumpur. Lebih kayak kota kabupaten yang baru berkembang. Gedung2 yang keliahatan nampak tua, ada beberapa yang baru, tapi dengan design yang sederhana. Ada ruko dimana2 yang jualannya persis dengan di negara kita. Toserba, toko bangunan, toko kain, bengkel mobil, toko spare part kendaraan berjubel bersisian sepanjang jalan. Bedanya, plang nama toko di tulis dengan tulisan keriting Sinhala ශ්‍රී ලංකාව dan Tamil இலங்கை.
Sampai ditengah kota Colombo, kami diajak sama supir kedubes buat singgah dulu ke kantor Kedutaan Indonesia yang juga merupakan kantor Kedutaan paling besar se Sri Lanka. Bahkan mengalahkan besarnya kedutaan Amerika Serikat. Konon, katanya Sri Lanka punya hubungan yang baik dengan Indonesia dari zaman dahulu kala.
Kami melewati jalan tepi pantai dengan pemandangan spektakuler. Dari jalanan, kita langsung bisa lihat pantai yang landai dan bersih yang di debur oleh ombak lautan India. Pemandangan spektakuler. Dari jalanan, kita bisa lihat bule2 sedang sunbathing cuma pake kolor dan kutang doank... persis kayak ikan asin lagi dijemur. Bergelimpangan. Pemandangan tepi pantai yang landai dari jalanan kayak gitu sebenarnya pernah aku lihat di Turki waktu ke Istanbul. Pemandangannya lebih spektakuler lagi karena pantainya di Turki putih bersih. Beda dengan pantai Sri Lanka yang tanahnya rata2 kecoklatan. Sayangnya di Turki waktu itu gak ada bule panggang bergelimpangan diatas pantai, soalnya cuaca di Istanbul waktu itu hampir 5 derajat. Beku ajaaaa tuh susu.... hahahahahahahahaha...

Menjelang sore, setelah tukar USD ke LKR yang dapatnya jadi banyak banget dan berasa kaya mendadak, kami pun dengan sopan minta diturunin di jalan aja dan berencana naik bajaj (atau tuk tuk sebutan sananya, persis sebutan di Bangkok). Beruntungnya, pak supir yang ngerti dan bisa sedikit bahasa Indonesia ini maksa buat nganterin kami ke hostel di daerah Mt. Lavinia. Kawasan tepi pantai yang bakal jadi tempat nginap kami semalam sembari merencanakan besok mau kemana. Gak pake lama dan nyasar, kami pun sampai didepan hostel yang ternyata adalah rumah bulatan mirip Villa tepi pantai dengan pagar Label kayu tinggi nan megah. Dengan harga nginap 70ribu Rupiah semalam, aku ngerasa beruntung banget bisa dapat tempat nginap tepi pantai dengan view spektakuler. Bahkan dari kamar kami di lantai 2, suara ombak dan aroma pantai kentara terasa. Seketika, aku langsung ngerasa, it's a reaaaallll realllllll reaaaalllll holidaaay........

Setelah menaruh backpack dikamar, kami pun segera meluncur sore itu ke must visit place di Colombo. Di list.... ada Pettah Market, kawasan yang disana ada Gangaramaya Budhist Temple. Sebelum ke Pettah, kita jalan dulu disekitar pantai di Mount Livina. Pantainya gak terlalu bagus, karena di Indonesia kita punya banyak pantai yang lebih bagus dari itu. Lucunya, dipantai banyak orang lokal yang celingak celinguk dan seperti tertarik dengan kehadiran kami. Ada yang senyum dari jauh, ada yang dadah2 gak jelas ke kami, ada yang nyapa2 sok kenal sambil bilang... Ni hao... Ni hao.... (Chinanya gw dimaaaneeeee cobeeeeee.... ) bahkan ada yang minta2 sedekah. Itulah anak2 kurang ajar dan kurang kerjaan di Sri Lanka. Mereka bergantian mengemis2 bilang 'im poor.... im hungry.... no mama.. no papa, give me some money' yang sama sekali gak aku gubris. Sepanjang jalan dia ngekor narik2 tas yang kemudian lama2 bikin aku emosi trus bilang 'im poor too... you know.... i dont have money (for you... my money for my holidaaaay!!!!) am a studeeeent.....' (ngomong gitu, tapi sambil terus jalan dan poto2 kayak turis kaya raya) si anak gembel (yang pura2 gembel) itu pun menyerah dan berhenti ngikutin..... eh, bukannya menghilang, malah dia bawa temen2nya segambreng dan sok sok-an manis minta foto bareng (padahal ujung2nya minta duitnya lebih sadis lagi pasti....). Keinget trik bodoh ini di serial Scam City di National Geographic Channel, aku langsung ngacir dari pantai dan pura2 sok kenal dengan orang lokal yang lagi bawa anaknya jalan. Dia keliatan bukan seperti orang miskin yang jelas. Dia juga keliatan terpelajar. Jadilah aku ngekor dia sampai gak diikutin anak2 gembel yang kalo kena sekali jepret bikin kantong jebol itu, belum lagi ancaman dari preman2 sana yang sok kenal sok dekat... beuuh... Si'terpelajar' itu ngenalin namanya, nama yang bagi orang Indonesia kayak aku ini susah buat mengingatnnya. Setelah gak diikutin lagi, barulah aku nanya ke si'terpelajar' bagaimana buat ke Pettah Market dan melihat Gangaramaya Temple. Dia pun dengan senang hati nganterin aku sampai di Bus yang menuju Gangaramaya Temple.


Dibus,,,,, aku sebangku dengan cewek Tamil yang lumayan cantik. Beruntungnya, cewek itu bisa dan mau ditanya2in macam2 (untungnya bukan mau diapa2in), tentunya dengan bahasa Inggris yang ke India2an. Fyi: Bahasa resmi orang2 Sri Lanka adalah Tamil dan Sinhala, tapi hampir semua orang Sri lanka bisa bahasa Inggris. Jadilah aku nanyain apa yang musti dikunjungi di Colombo, makanan apa yang enak dan khas, berapa lama ke Pettah Market. Hampir setengah jam kami menyusuri jalan kota Colombo yang padat, di bus yang full orang berwajah Tamil dan full musik bernuansa Hindi bangeeett....

Sampai di Pettah Market, si cewek nyuruh aku turun buru2 tepat disebuah danau yang sore itu tenang banget. Sore itu Colombo cerah berawan, aku malah sempat nemuin pelangi separuh lingkaran yang terbingkai di langit Colombo. Keren banget.... 

Taunya, lamat2 pelangi itu membawa hujan... pantesan kok cerah2 gini ada pelangi... taunya ada hujan dibalik pelanginya... kita pun ngacir ke Temple terbesar di kota Colombo itu yang kebetulan sore itu lagi ada upacara sembahyang.... Candinya sederhana dari luar... tapi didalamnya.... berjibunlah harta karun.... beribu-ribu patung Budha terpajang dari segala ukuran, dari bermacam2 material dan tentunya dengan beragam pose.... dan aku pun cuma terngangaaaa..... terngangaaa........ dan disana ternyata juga ada Stupa yang persis Borobudur punya....... Awesome.....


Pulang dari Gangaramaya, kita sewa tuk2 yang akhirnya bisa ditawar2... akhirnya sebelum ke hostel kita minta anterin dulu buat Sholat Isya dan Jamak Maghrib di Mesjid mirip kue lapis karena desainnya unik selang seling merah bata dan putih. Sayang, masjid Jami' Ul Alfar ini lagi dalam perbaikan dan tampak sedikit kotor... 

Pulang dari Pettah yang jaraknya berasa jauuuuuuhhhh banget dari Hostel, kita naik tuk2 dengan penawaran sengit..... setelah tawar menawar, akhirnya kami naik dengan ongkos LKR 150 atau sekitar Rp.12000-an (cukup murah untuk jarak yang jauh... ini didapat karena kebetulan supirnya muslim... jadilah kami bawa2 agama demi naik bajaj murah.... ampuuuunnn ya Allaaaaaaah...... tapi yang jelas abang2 bajajnya ikhlas koook...)

Sampai di Hostel, dikamar sudah ada Craig bule Inggris, 1 bule tua entah dari mana... terusss... ada Derek backpacker asal Filipina yang udah 2 Bulan keliling Sri Lanka dan besoknya mau ke India dan ada bule dari South Africa yang besok pagi mau ke Hongkong dan setelahnya berencana ke Indonesia. Mereka semua ramah dan semangat diajak cerita tentang pengalaman backpacking masing2. Derek yang paling enak diajak ngobrol, mungkin karena sama2 dari Asia, dia jadi yang lebih banyak ngasi masukan buat kita-kemana-besok dari pada yang lain. Derek bilang, mending besok pagi2 kami ke Kandy, keliling seharian dan besoknya bisa lanjut ke Dambulla-Sigiriya, terus balik pulang via Kurunegala menuju Negombo. Finally.... Ittenerary Derek buat kami yang cuma punya waktu singkat di Sri Lanka adalah pilihan terbaik yang bakal di uji coba besok hari...... dan tentunya tanpa mereka tahu,,, Besok pagi adalah my Birthday... la la la............ (Norak....)


second chapter....

Minggu, Oktober 07, 2012

Manila.... Oh.... Manila..... (part 5 - the end)

Badai...... pasti berlalu....... dan aku setuju.....

Benar kata kak Katty Pery dilagu Firework-nya: 'after a hurricane,,,,, comes a rainbow....'. Manila cemerlang pagi itu. Aku bangun dengan gembira. Para penghuni Hostel lain juga keliatan lebih semangat setelah seharian terkurung. Sarapan (yang harus dibikin dan diambil sendiri) sudah disediakan El di pantry. Ada berbagai roti semisal tawar, gandum, gandum import, gandum lokal disajikan disana, lengkap dengan 5 macam selai yang nyummy. Kalo mau, kita juga bisa toast sebentar rotinya, soalnya.... tiap2 Hostel biasanya udah menyediakan keperluan sarapan ala western di dapurnya. Kita juga bisa buat kopi atau teh celup gratis bahkan mungkin 'teh talua' disana (repot aja ngocok telornya ya....). Persyaratan tidak tertulis yang musti dilakukan setelah sarapan oleh tiap traveler adalah mencuci piring sendiri. Yap, ketika lu traveling sekalipun, lu bakal diajarin bagaimana cara menghargai orang lain semisal mencuci piring (yang abis lu pakai) sendiri sehabis makan. Itulah salah satu bedanya Hostel dengan Hotel. Selain jauh lebih murah, kita juga bisa berbaur dengan backpacker asing yang punya visi yang sama, yaitu.... keliling dunia gak pake mahal. Dan rata2, backpacker bule itu jauh lebih ramah dan menyenangkan diajak ngobrol bahkan suka sok akrab ketika tau kalo kita dari Indonesia. Kenapa??? Persepsi aku adalah karena rata2 bagi backpacker asing yang pernah aku temui, Indonesia adalah negara tujuan backpacker paling populer sekaligus yang lumayan sulit (dan sangat menantang) untuk di jelajah. Indonesia gak semelulu gampang di tempuh semisal ke Bangkok atau Manila. Beberapa bule ngaku pengen banget ke Raja Ampat atau ke Toraja, tapi mereka minim informasi. Beberapa lainnya juga bilang moda transportasi di Indo cukup complicated, ditambah lagi Indonesia adalah negara paling luas di Asia Tenggara. Cobalah ke Singapura.... disana ada MRT. Ke Malaysia.... ada KTM atau LRT, juga ada Monorail. Ke Manila, juga ada LRT dan Jeepney. Indonesia sih punya juta kereta api, tapi untuk orang Indonesia sendiri aja kurang nyaman, apalagi untuk pelancong. Juga, beberapa spot yang harusnya dikembangkan jadi tempat pariwisata belum dikelola secara benar oleh pemerintah dan Pemda. Padahal, Indonesia is a beautiful city loh... (kata Nadine.... *haaaaks..)

Selesai sarapan, Benny udah nongol pake celana pendek santai dan kaos biru + payung yang dia bilang sengaja dibawa karena seharian dijamin Manila bakalan terik (hey Beeen,,,, apa kabar Pekanbaru..........). Dan betul aja....... Manila siang itu terik banget.... sampe kulit berasa Sunburn... kata Benny, itu karena Manila adalah kota yang berada di tepi laut.

Agenda Benny adalah..... dari Hostel ku dikawasan Malate, kita ke Rizal Park yang bisa ditempuh dengan jalan kaki. Awalnya Benny ngajak naik Jeepney atau taxi, karena mengingat pengiritan, jadilah aku paksa dia jalan kaki aja, sekalian ngeles pengen ngerasain suasana pagi (after thypoon) di sana.

Rizal Park adalah taman di tengah kota Manila yang gedeeeeeee banget. Disana ada Rizal Monumen, semacam tugu yang mengenang perjuangan pahlawan nasional Jose Rizal. Jose Rizal disebut pahlawan karena perjuangannya melawan penjajah sampai akhirnya beliau di hukum mati. Menariknya, semakin dalam kita masuk ke Rizal Park, kita bakal ketemu jejak-jejak kaki rizal (dioarama kematian) yang menggiring kita dari selnya sampai ke tempat dia di eksekusi. Benny bilang, too many drama's in Manila..... (mungkin karena dia orang lokal, dia menganggap penggambaran jejak kaki itu sebagai sesuatu yang berlebihan....)

Makin masuk kedalam, kita bakal ketemu banyak patung pahlawan2 Filipina disana. Salah satunya pahlawan nasional yang namanya Lapu-lapu. Lapu-lapu dijuluki Datu atau Datuk karena perjuangannya melawan bangsa Spanyol waktu jaman penjajahan bergaung sampe luar Filipina, yaitu Indonesia dan Malaysia. Selain sebagai pahlawan nasional pertama, Beliau juga seorang muslim. Dan disini, aku baru ngerasa kalo Indonesia dan Filipina dulunya adalah bangsa yang satu tanpa batas seperti sekarang. Mungkin itu yang dulu disebut Patih Gajah Mada sebagai sesuatu yang disebut Nusantara. We are Family!!!!

Jauh makin kedalam, kita bakal ngelewati semacam taman yang disebut Japanese Garden. Japanese Garden, dibuat sebagai tanda persahabatan Filipina dan Jepang. Disana ada banyak tanaman khas Jepang seperti Sakura, yang kata Benny kalau bunganya mekar suka ada festival yang dibuat disana. Kalau kita ngeliat ke arah depannya, kita bakal ngeliat beberapa gedung yang sekerang difungsikan sebagai museum. Salah satunya Museum Of the Filipino People atau Museum Rakyat. Benny bilang, dia cuma sekali masuk kesana dulu waktu karya wisata jaman sekolah.

Hari yang terik tadi tiba2 gerimis, gerimisnya lama2 bikin basah. Kita pun 'terpaksa' berteduh melipir ke Museum Rakyat Filipina. Benny yang tadinya ogah2an, akhirnya pasrah pas aku ajak buat masuk ke Museum sambil nunggu gerimis reda. Benny bilang, Museum ini gratis untuk pinoy dan harusnya aku yang berwajah pinoy ini juga gratis. Jadilah aku berpura2 jadi pinoy. Tapi, karcisnya ternyata cuma 100 apa 200 Peso-an (gak nyampe 5000-an Rupiah). Jadilah aku menjelma jadi turis yang baik dengan ngebayar karcisnya dengan alasan untuk koleksi,,,,

Didalam Museum sebenarnya gak beda jauh dengan Museum2 sejarah pada umumnya. Disana diceritakan perkembangan peradaban manusia di Filipina dari jaman prasejarah sampe sekarang. Ada juga sedikit ngebawa2 Indonesia disana. Pokoknya, disana digambarkan bahwa orang Filipina punya kekerabatan yang kuat dengan orang2 Indonesia. Bahkan ada beberapa wilayah di Filipina yang kosa katanya mirip dengan Bahasa Indonesia, walau dengan aksen pengucapan yang berbeda semisal, Payung disebut Payong atau Hujan disebut Ulan. Yang jelas,,,,, kalo isi museum aku ceritain semua disini, mungkin aku bakal dapat Nobel dari pemerintah sana. Maka, kita skip bagian Museum.


courtesy of lawstude.net

Lepas dari Museum, Benny masih semangat buat nge-guide aku walau musti jalan lagi demi mencapai Intramuros. Ini adalah tempat yang digadang2 menjadi tempat yang paling Europe di Manila. Hampir semua travel guide bakal nyaranin kita kesana. Intramuros sebenarnya Kota didalam Kota.... nah lo......... Benny bilang, dulunya Intramuros dibuat hanya untuk ditempati orang2 Spanyol. Orang lokal dan keturunan China sama sekali dilarang masuk kesana kecuali pada acara tertentu. Didalam ada banyak bangunan semacam bangunan gereja, gedung pemerintahan, kediaman2 orang penting yang sekarang difungsikan sebagai sekolahan. Maka, kalo kita berkunjung ke Intramuros, datanglah pada jam pulang sekolahan. Dijamin, kita bakal nemuin beribu pinay wokeh dan pinoy2 separoh asia separoh eropa berjejal-jejal dijalanan sambil makan baso stik babi...... yucks!!!!

Benny sempat mengajak buat naik keatas tembok Intramuros yang difungsikan sebagai Benteng mata2. Disana ada meriam yang masih terawat. Dari atas kita juga bisa melihat Bangunan bekas penjajah yang sekarang berfungsi sebagai walikota, persis gedung sate di bandung tapi dengan menara semacam jam berkubah dengan lonceng ditengahnya. Sedangkan kalo kita melihat kebawah, maka yang ada bukanlah taman bunga atau semacamnya, tapi justru lapangan golf modern. Pemandangan yang kalo aku bilang cukup aneh di bangunan se-bersejarah Intramuros. Ada sekitar 1 jam kita putar2 disana, yang kemudian di langsirkan Benny menuju Fort Santiago.









Intramuros ke Fort Santiago bisa sambil guling2 atau sambil koprol trus bilang WOW.... kikikikk....

Fort Santiago sendiri masih berada di lingkungan Intramuros. Dulunya, Fort Santiago adalah bentengnya Rajah Sulaiman. Rajah Sulaiman itu adalah Raja bangsa melayu jaman dulu. Sebelum Portugis datang, nama Fort Santiago adalah Maynilad yang kemudian dipakai sampai sekarang menjadi nama ibukota Filipina. (Teeeet.... lama2 gw jadi guru sejarah juga nih...)

Banyak sebenarnya yang mau diceritakan tentang Intramuros dan Fort Santiago.... tapi... biarlah gambar2 berikut yang bercerita.





Puas keliling tempat bersejarah, Benny ngajak cari oleh2. Awalnya kita ke Chinatown-nya Manila...atau nama kerennya Quiapo (baca: kiapo) sebelum belanja, Benny nantangin aku makan Balut. Balut itu bukan belut, tapi telor ayam rebus yang isinya adalah anak ayam (embrio ayam setengah jadi) yang lagi kinyis2nya. Benny bilang, rasanya enak dan gurih + kreess kress kalo dikunyah... gak semengerikan keliatannya. Tapi, dari pada terjadi pertumpahan muntah dinegeri orang, gara2 makanan khas ala fear factor itu, aku pun milih nyerah dan janji bakal traktir Benny Halo-Halo nanti.....


Halo2... semacam es campur khas Filipina
 Di Quiapo, juga ada gereja terbesar yang pas kita datang lagi misa. Karena penasaran, akupun ngajak Benny masuk. Poto2 didalam sebentar (ditengah2 misa) terus keluar lagi... dan Benny bilang... it is my 5 minute being more religious..... i almost 1 month did not going to church,,,, (beuh,,,, masuk cuma poto2, kok dibilang 5 menit teralim..... )

Abis dari Quiapo, kita langsir lagi ke pasar souvenir yang harganya miring banget. Posisinya dibawah Fly Over. Sialnya, mulai dari sana, banyak barang yang kebawa.....

Menjelang jam 5, aku pun dapat sms dari Ayka, cewek Filipina yang pengen banget ketemu aku gara2 dia pernah ke Batam pas Study Tour di Singapura. Ayka lumayan bisa percakapan dasar Bahasa Indonesia. Karena selain dia tertarik belajar Bahasa, di kantornya juga ada beberapa orang Indonesia. Jadilah akhirnya kita ketemua di Mall yang namanya Greenbelt. Konon katanya.... Greenbelt itu Mall yang sambung menyambung menjadi satu... Mall dengan konsep taman yang jadi tempat kongkow pinoy after hours ini, kabarnya ditandai sampai dengan 5 tempat. Untungnya Ayka ngajak ketemuan di Greenbelt 3. Sekalinya ketemu, ini cewek menyenangkan banget... dan seruuuu,,, parasnya juga lumayan cantik. Ayka bela2in bawa oleh2 spesial khas Filipina kayak Polvoron, kue kacang sama coklat2 yang nyummy tapi halal. Habis sejam buat kongkow sama Ayka dan Benny. Ayka pun pamit karena mau ngejar Train buat pulang...


Dari Greenbelt, kita ngacir pake taksi (yang dibayarin Benny) ke SM Mall... Mall of Asia yang diklaim sebagai Mall paling besar di Asia. Mall ini punya salah satu orang terkaya di Filipina. yang pembangunannya diatas rawa2 tepi pantai. Di lantai atasnya, kita bisa lihat pemandangan ke arah laut yang bagus banget... tapi sayang, kami keburu gelap nyampe di SM Mall. Muterin SM Mall bikin pegel dan pastinya bikin kantong makin jebol.... menjelang malam, kita ngadem di pinggiran Manila Bay gak jauh dari SM Mall. disana lumayan rame. Ada kafe2, ada panggung musik, ada kios2 majalah yang cuek majang majalah nganu, ada orang2 pacaran yang cipokan sampe udah kayak bintang bokep. Aku cuma bisa mengurut dada ngeliat kelakuan anak muda Manila jaman sekarang.... (Nah,,,, emangnya lo siape corrrr...........)

Besok paginya, Aku gak lagi nginap di Where 2 Next Hostel di Malate. Benny bersedia nampung aku di flat nya di hari terakhir di Manila. Secara rumah Benny lumayan dekat dari terminal Pasay. Agak siangan, Benny nongol. Akupun pamit ke El yang kebetulan lagi di meja receptionist Hostel. Vicky lagi keluar katanya. Jadilah aku cuma titip salam aja sekalian pamit dan entah kapan ketemu 2 kakak beradik itu lagi...

Dari Malate, Benny ngajak kerumahnya naruh barang2. Tinggal sehari lagi aku menghirup aroma Manila. Rasanya kayak gak lagi liburan di luar negeri, karena Manila feels like home... atmosfirnya persis...... orang2 nya mirip...... ramah tamahnya juga bagus....



Tiba2 aku nyelutuk nanyain program Master Degree disana. Benny kemudian punya ide buat muter2 ke UP. University of Philippines yang juga tempat kuliah bang Christian Bautista juga KC Conception (Artis Filipina yang ikut nyanyi pembukaan SEA Games bareng Jaclyn dan Agnes Monica). Hampir semua Fakultas di perkenalkan Benny. Suasana UP persis UI di Depok. Puas keliling dan ngantongin beberapa info tentang beberapa fakultas, kami pun kembali kedunia Hura2.



Setengah jam kemudian, kami udah di Ayala Center di Makati. Ayala itu daerah bisnis di Manila. Poto2 sebentar, kita pun langsir cari makan. Lagi asik2 makan, beberapa teman Benny ngajak ketemuan. Jadilah kemudian aku kenal dengan pinoy2 lain yang kemudian aku kenal dengan nama Zandro dan Francis. Pas tau Benny lagi ngehost orang Indonesia, Temen2nya spontan ngajak ke karaoke. Benny bilang, lebih aman ngajak orang Indonesia ke Karaoke dari pada ke Disko. Soalnya, anak Jakarta terakhir yang datang ke Manila dan diajak ke Disko (Bar/Clubbing), pulang2 mabuk berat. Beda sama bule2 yang tahan mabuk karena udah biasa minum.

Jam 8 karoke pun mulai. Tadinya kita cuma booking 2 jam. Saking serunya, kita extend sampe 4 jam.... Kalap... semua lagu dinyanyiin. Kita karoekan pool-poolan... tau dong ya kalo orang Filipina suaranya bagus2. Gak ada istilah baling nada di mereka. Nyanyinya juga full improve dan gaya, bahkan Francis yang rada2 'cheersleader' sempet nyanyi lagu Britney Ooops I did it again plus koreo gila2an yang bikin kami semua ngakak... Sumpah itu malam karaoke terseru seumur2 yang ternyata juga di aminin sama Benny dkk. Mereka bilang mereka gak pernah karaoke seheboh dan sememalukan itu.... LOL

Sebenarnya Benny dan Zandro keliatan sedikit dizzy karena sempat minum 3 botol beer entah apa namanya itu, yang jelas rasanya kecut2 pait. Aku cuma malu2 sambil pesan jus Nanas..... Apa jadinya kalo aku dibawa clubbing ya... masa pesan jus Nanas juga... wakakakakakak.....

Subuh2.... Benny udah kayak Om2 diputusin pacar gelap dan dicampakkan istri tua... tampangnya udah kayak orang bingung karena masih kebawa mabuk tadi malam. Walaupun gitu, dia pun tetap nganterin aku ke terminal Pasay buat ke Clark. Padahal, Bus baru berangkat jam 8 pagi. Kita udah kayak sodara lama yang bakal pisah. Sayang kita sama2 cowok, jadi gak pake acara tangis2an dan peluk2an.... hahahahaha....... Benny bilang kapan2 bakal main ke Pekanbaru. Entah apa yang bakal dia liat di sini nanti... atau cuma basa basi aja....

Jam 8 teng Benny masih nugguin sambil cerita2. Bus pun datang dan penumpang disuruh masuk, aku pun pamitan dan sungguh pengen balik lagi nanti.... setelah drama dadah2an.... bus pun berangkat,,, persis berasa kayak anak kos yang lagi di lepas sama emaknya.. hahahaha.. lebay.....

2 jam, akhirnya nyampe lagi di Clark, Pampanga. Tempat dimana Airport yang bakal membawaku ke Kuala Lumpur buat kembali transit ke Pekanbaru. Bandara kecil ini mengingatkan 6 hari lalu waktu aku baru nyampe di sini dan buta banget soal Manila. Taunya, pulang2 aku udah punya sejuta cerita dan pengalaman yang bisa dikenang. Thats why i told you.... I Missed Manila..... And The People around....

Sampe sekarang Aku masih contact dengan geng Manila. Dan berjanji untuk balik lagi atau traveling bareng.... Betapa 6 hari disana sudah membuat Bahasa Inggris ku lumayan maju pesat.... once again.... Thas why i told you.... how i missed Manila.......

See you again in Manila on 2013....

The End......