Tampilkan postingan dengan label sri lanka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sri lanka. Tampilkan semua postingan

Rabu, Februari 11, 2015

Lanka….. Lanka.…. Lanka.…. (Third Chapther…. End)


Setelah browsing berbulan-bulan keluar masuk blog orang, maka di putuskan lah puncak dari trip lanka… lanka…  lanka…. Ini adalaaaah….. Sigiriya: The Lion Rock. Benteng dan istana batu kuno yang terletak di distrik Matale, Sri Lanka yang dikelilingi oleh sisa reruntuhan kota kuno masa pemerintahan Raja Kassapa I (477-495) ini merupakan satu dari tujuh Situs Warisan Dunia UNESCO yang wajib dikunjungi di Sri Lanka. (wiki). Karena hukumnya wajib, maka gak afdol kalo udah ke Sri Lanka gak kesini.

Lion Rock, Sigiriya, Sri Lanka


Informasi dari blog travel milik mas @hardi_ch, di culinaryntravelmaniac.blogspot.com sangat membantu perjalanan menyusuri kota demi kota di Sri Lanka. Setelah dari Kandy, Sigiriya bisa di tempuh selama 3 jam menggunakan Bus. Jadilah kami dari Kandy terus ke tengah-tengah pulau Sri Lanka menuju Dambulla untuk ke Sigiriya. Menurut info, untuk ke Sigiriya sebaiknya kita menginap di Dambulla, karena Sigiriya sendiri berada di tengah hutan yang aksesnya biasa ditempuh menggunakan kendaraan semacam bajaj kesana.

Turun dari Bus, kami kembali langsung diserbu oleh rombongan supir bajaj. Salah satunya oleh Saman Nilanga yang kemudian menawarkan guest house terdekat untuk kami singgahi. Mereka tahu betul tujuan kami pasti Sigiriya. Maka setelah check in di Takeshi Inn, kami pun menawar sengit untuk diantar pulang pergi dengan bajaj Saman. Saman, pemuda tamil yang kulitnya sumpah coklat tua banget ini akhirnya mengalah dan mengantar kami dari Dambulla ke Sigiriya yang jaraknya lumayan jauh. Hampir sekitar 40 menit kami menyusuri hutan karet, kebun-kebun sampai akhirnya dari kejauhan kami melihat seonggok bukit batu yang tampak lain diantara bukit2 lainnya. Bukit batu itu terpahat sedemikian rupa dan nampak sangat mencolok seolah2 kita bukan sedang berada di bumi. Saman dengan bahasa Inggris malu2nya sempat menyebut Sigiriya sebagai Alien’s Home. Sumpah, waktu itu aku tiba2 percaya dengan apa yang dikatakan Saman.
 
Saman riding the bajaj, goes to Sigiriya

what the...... pose

in front of the Lion Rock

Akhirnya, batu aneh berukuran raksasa dengan tinggi sekitar 200 meter itu terpampang jelas didepan mata. Ini salah satu ketakjuban pribadi kedua setelah melihat langsung Ka’bah. Batu raksasa itu ternyata juga di sebut Lion Rock atau Batu Singa. Awalnya aku heran, kenapa batu itu disebut Batu Singa, mirip sama Singa aja kagak. Kemudian dengan positive thinking, aku pun berfikir; bisa jadi batu itu dulunya memang rumah para Singa. 

Setelah menyewa seorang tour guide yang menyangka kami orang Jepang lalu kemudian (pura2) shock karena tau kami dari Indonesia (trik tour guide basi), kami digiring ke loket pembelian tiket seharga $20 plus mini dv yang berisi profil dari Lion’s Rock tersebut. Saman yang sudah serah terima nyawa kami di tangan tour guide yang kita sebut saja namanya Mr. Kumar bilang akan jemput kami di sisi seberang batu 3 jam lagi. Aku heran, kenapa ngeliat2 batu begini doank bisa sampai 3 jam. Eh… ternyata eh ternyata mendaki si Batu Singa ini butuh waktu setidaknya 2 Jam karena medan yang akan kita lalui terjal. 


Mr. Kumar the guardian of the Lion Rock


Mr. Kumar bilang akan ada beberapa Pit Stop di Trip ini. Pertama di Elephant Rock, lalu di Lion Rock dan berakhir di Cobra Rock. Oke… Fine…. Lets Climb…. Climb…. And Climb…….. secara udah mahal2 beli tiket dan sewa tour guide. Di pintu masuk komplek Sigiriya, Mr. Kumar menjelaskan bekas pondasi  yang merupakan kolam taman yang mereka sebut ‘ water garden’ yang dibuat sedemikian rupa sehingga tidak pernah kekeringan. Di dalam kolam sempat ditemukan beberapa artefak dan kendi…. Oke… kita skip cerita tentang kendi2an dan kawan2nya…. Alhasil, sampailah kami di gundukan batu yang di sinyalir mirip dengan bentuk gajah. Voilaaa…. Sampailah kami di Elephant Rock…..

Elephant Rock

Di Pinggang Lion Rock

lelah babang dek... :p


Lukisan Selir2 topless di dinding gua


Setelah mendaki lebih kurang 30 menit, kita akan menemukan beberapa lukisan perempuan bertelanjang dada yang dipercaya adalah selir2 yang paling disayang raja. Namun beberapa lukisan rusak dan nampak dihapus bagian wajah dan dadanya sejak masuknya agama Budha di Sri Lanka. Terus keatas kita pun menjumpai apa yang disebut Lion Rock. Inilah Lion Rock itu….

Sisa reruntuhan Lion Rock, Sigiriya

oma dan opa bule yang tetap semangat


Mr. Kumar bilang, dahulunya, kaki ini merupakan kaki Singa yang di ukir sedemikian rupa  dan para ahli percaya bahwa disana merupakan tahta kerjaaan yang berbentuk singa lengkap dengan kepala yang sayangnya sudah hancur di makan waktu sehingga menyisakan kakinya saja.

Terus keatas, kita tiba dipuncak batu yang ternyata adalah reruntuhan istana raja, tempat raja dan ratu serta selir2nya tinggal. Bayangin deh, rajanya buat istana di atas batu dengan ketinggian 200 meter dari tanah. Entah gimana mereka dulu bangun istananya disana secara dengan tangan kosong aja kita ngos2an mendaki keatas. Mr. Kumar sempat berbisik dan bilang, bisa jadi dahulu kala dibawah itu dulu adalah lautan dan mungkin mereka membangun istana pakai kapal, tentunya kapal yang super besar. Diatas memang terlihat sisa bangunan dan pondasi. Mr. Kumar sibuk menjelaskan dimana kamar raja, kamar selir dan ruangan meeting bla bla bla…. Sedangkan aku sibuk poto2. Sampai akhirnya Mr. Kumar sadar dan menawarkan diri untuk mempotokan kami bahkan dia menyuruh pose ala2 ‘Flying Budha’… uwow bangets lah pokoknya….
Siang itu tidak begitu terik. Turis yang ikut dalam tur spektakuler tersebut kebanyakan bule eropa. Diantara rombongan bule ada yang sudah berusia lanjut, tapi tetap semangat mendaki Lion Rock yang terjal ini. Sungguh semangat yang patut di berikan applause yang meriah… hehe….


Reruntuhan Istana di Puncak Lion Rock

Going down is dead

Flop!!!!

200 meters......

2 jam mendaki terbayar dengan indah, mungkin itu semua perasaan turis yang sudah jauh2 ke pedalamam Sri lanka ini. Pegal, penat dan peluh menguap oleh sejuknya angin dari puncak Lion Rock. Untuk turun, hanya dibutuhkan kurang lebih waktu 30 menit. Pemberhentian terakhir adalah di Cobra Rock, Batu yang bagian atasnya melengkung seperti kepala ular kobra.

Cobra Rock

Tak terasa hari sudah sore, kami pun kembali ke guest house dan istirahat untuk besok melanjutkan perjalanan ke Negombo. Negombo adalah kota terakhir yang akan kami kunjungi di Trip lanka… lanka… lanka… ini. Negombo merupakan sebuah kota mayoritas berpenduduk Kristen dengan banyak peninggalan khas Spanyol, yaitu gereja2 berarsitekur klasik khas Espana. Kami kembali menginap di sebuah guest house. Di Negombo, harga kamar 2 x lipat dari harga2 kota sebelumnya. Mungkin karena Negombo terletak berdekatan dari Airport Bandaranaike, sehingga menjadi alternatif para pelancong untuk stay selain Ibukota Sri Lanka di Colombo. Kamar kami berada di lantai 3 yang pemandangan di balkonnya adalah laut lepas. Yes, kamar kami ada balkonnya walau ini adalah guest house. Walau harganya agak mahal, namun fasilitasnya sudah mumpuni, kamar mandi di dalam, ada air panas dan lagi2 ada kelambu. Sorenya kami berjalan kaki keliling Negombo dan menyusuri pantai2 disana. Uniknya, pantai disini  berpasir kuning dan beombak sedang. Pantai tetap dijaga kebersihannya karena ada mobil pembersih sampah lalu lalang. Mobilnya tersebut menyapu pasir dan mengambil sampah sambil jalan.  Good Job Negombo!!!

Off to Negombo

Kelambu, ciri khas hotel/ guest house di Sri Lanka

Negombo from balcony

Bersih-bersih pantai ala Sri Lanka


Salah satu gereja di Negombo

Departures Board

Meals on Board

Alhasil, sejauh ini Sri Lanka adalah negara dengan petualang traveling yang berkesan dan unik. Entah mengapa, aku merasa ada kedekatan emosional orang2 Sri Lanka dengan Indonesia. Bisa jadi karena mayoritas Hindu Sri Lanka berkiblat ke Candi Borobudur sebagai peninggalan peradaban Hindu terbesar di dunia, atau mungkin karena banyak hal berbau Indonesia disana seperti kuliner Indonesia yang diadaptasi disana seperti Nasi Goreng yang tetap di tulis Nasi Goreng di menu restoran mereka, atau bahkan karena kesamaan nasib pernah di terjang Tsunami yang sama beberapa waktu lalu. Entahlah…. (end) 

Bonus: (buat cewek2 jomblo)

Saman makan Nasi Goreng pake tangan loh... Aneh ya

Senin, Februari 09, 2015

Lanka….. Lanka.…. Lanka.…. (Second Chapther….)

Setelah semalaman berguru dengan Derek, Backpacker asal Filipina yang sudah menjelajah Sri Lanka selama 2 bulan, pagi ini kami pun memantapkan hati untuk moving on dari Colombo ke Kandy.



Kandy, Sri Lanka



Menurut Derek, 3 hari ke depan bisa kami pakai untuk menjelajah Sri Lanka tengah, dimana disana ada sebuah kota bernama Kandy, yang menurut Derek adalah kota yang nyaman, Indah, tenang dan juga terdapat sebuah Kuil Sakral yang konon menyimpan gigi asli Budha bernama Relic of the tooth of the Buddha atau Temple of the Tooth atau Sri Dalada maligawa atau Temple of the Sacred Tooth Relic. Apapun namanya, kuil ini adalah salah satu kuil wajib yang musti di kunjungi oleh wisatawan dan peziarah Buddhist di Sri Lanka.

Jam 8 pagi dengan menenteng ransel yang masih 5 Kiloan di punggung, kami pun menyetop sebuah bus dalam kota, ke arah terminal tempat ngetemnya berbagai bus yang salah satunya menuju Kandy. Ditengah jalan, bus kota yang kami tumpangi sempat2nya menyenggol seonggok bajaj. Supir bajaj yang berkumis  tebal dan bermata melotot itu ngomel2 ke supir bus dalam bahasa tamil, persis kayak film-film India.... di iringi  lagu up beat india yang sedari tadi diputar sepanjang perjalanan… Full of Drama....

Sesampainya di terminal, Bus ke Kandy ternyata bukan seperti bus AC antar kota di Indonesia yang nyaman dan ada kamar mandinya, tapi bus antar kotanya masih sama persis dengan bus dalam kota yang tadi kami tumpangi, bahkan lucunya bus antar kota ini juga di tumpangi oleh banyak anak sekolah. Saking penuhnya, orang2 pun sampai berdiri di sepanjang gang di dalam bus, untungnya kami sudah dapat tempat duduk mengingat lama perjalanan Colombo - Kandy sekitar 3 jam (kata derek).

Selama perjalanan Colombo - Kandy, bus ribuan kali (saking seringnya) menaikkan dan menurunkan penumpang yang membuat waktu tempuh menjadi molor ke 4 jam. Ternyata penumpang bus tidak semuanya ke Kandy, anak2 sekolahan tadi silih berganti naik turun bus, bahkan di tengah hutan sekalipun ada anak sekolahan yang memberhentikan bus kami untuk sekedar menumpang, dari yang (mungkin) masih kelas 1 SD sampe yang udah SMA dengan bentuk fisik yang beragam. Ada yang putih dengan hidung mancung ala india dan mata belok, ada juga yang hitam tamil dengan perawakan agak jangkung dan kurus, dan mereka semua wangi2. Wanginya bukan semacam wangi parfum, tapi wangi rempah2 alami entah apa itu namanya.

Pemandangan selama perjalan Colombo - Kandy berubah2, dari kota kecil semacam kabupaten dengan rumah2 yang jarang2 menjadi semak belukar - perkebunan karet - tebing - sampai masuk perkampungan lagi. Hampir disetiap simpang dan sudut jalan terdapat patung Budha atau Dewa Hindu bahkan Bunda Maria dalam sebuah tempat semacam rumah kecil, patung2 itu terkadang di hias dengan kain, bunga2 dan sesajen. Sampai akhirnya kami masuk di sebuah kota yang suhu udaranya rendah dan berbukit. Akhirnya sampailah kami di Kandy, kota yang sepertinya menyimpan banyak cerita dan mengundang banyak turis untuk datang.

Baru turun dari bus, wajah kami yang Asia Tenggara dan oriental di serbu abang2 bajaj. Untungnya hotel yang akan kami tumpangi (sesuai saran Derek, lagi2 derek) berjarak 5 kali salto. Jadilah abang2 bajaj lain cuma berani menyapa 'ni hao.... ni hao'. Dikiranya semua orang berwajah Asia itu Chinese kali yah.

abang bajaj

Hotel kami persis berada di pinggir jalan dan sebelahan dengan 'Kuil Gigi'. Hotelnya merupakan bangunan tua yang bergaya kolonial. Kamarnya berkelambu (konon kabarnya nyamuk di Sri Lanka segede gaban) dan lantainya kayu. kebetulan kami dapat di lantai 2 dan ada terasnya, kamarnya besar dilengkapi dengan 1 lemari kuno persis di film2 horor, mungkin kalo gak ada tamu lemarinya bisa jadi tempat sembunyinya Annabelle. Terlepas dari semua kekunoan kamarnya, ada satu hal yang aku cermati. Karena lantainya kayu, maka setiap ada yang lewat pasti berdecit. Kalo decitannya berulang2 dan seirama, mungkin ada pocong lagi lompat tali.... (tapi waktu itu kamar sebelah gak kosong dan gak ada pocong di Sri Lanka, yang ada disana adalah sepasang bule disana yang check in bareng kami... lalu bagaimana sepasang bule itu bisa membuat decitan tersebut menjadi seirama? Ini adalah sebuah tanda tanya besar.....)

Siang itu selepas check in, kami segera melipir mencari makan siang. Berhubung Kandy ada di dataran tinggi yang cuacanya sejuk, nafsu makan otomatis langsung memuncak.  Baru keluar hotel, kami tergoda oleh suara2 musik yang berasal dari dalam kuil gigi. Menurut informasi dari resepsionis hotel, itu merupakan latihan opera untuk pertunjukkan nanti malam. Sayangnya, tiket di banderol lumayan mahal untuk kantong backpacker. Mungkin karena kuil ini merupakan salah satu yang di akui UNESCO sebagai warisan dunia. Jadilah kami menghemat duit dan intip2 isi kuil dari gugel saja  serta tour de kuil gigi kami cancel dari list, berharap next time bisa betulan kesini lagi.

Sambil mencari tempat makan, kami menyusuri  pinggiran Kandy Lake yang tenang dan banyak menyimpan misteri. Diseberangnya terdapat bangunan peninggalan kolonial yang serakang sudah dialih fungsi menjadi hotel, restoran dan toko souvenir. Kota Kandy yang sejuk, berpadu dengan banyak bangunan kuno menjadi kombinasi yang pas. Seolah2 kota ini tidak berubah banyak dari masa ke masa.


Kandy Lake, from View Point

Kandy City, from View Point
Tampang ‘turis’ kami banyak mengundang orang lokal untuk curi2 pandang. Sumpah, mungkin seperti inilah perasaan turis2 bule waktu ke Pekanbaru, di curi2 pandang sama orang, berasa jadi artis mendadak. Cuih. Salah satu orang lokal yang berani nyamperin adalah bapak2 yang bahasa inggrisnya lancar dan ramah. Awalnya beliau menceritakan sejarah danau Kandy yang sengaja di buat untuk irigasi dan budi daya ikan, namun ujung2nya beliau menawarkan tiket untuk menonton pertujukkan nanti malam di dalam kuil dan mengaku kalau dia salah satu ‘guru’ yang mengajarkan anak2 didalam beratraksi. Sambil jalan kearah pasar kami pun terus diikuti. Curiga dengan gelagat beliau, kami pun menghindar masuk ke KFC. Selesai makan di KFC yang di menunya gratis salad kol dan wortel cincang (secara kebanyakan orang tamil vegetarian) dengan saus kari dan mayonnaise, kami pun terpaksa keluar sambil ngumpet2 karena si bapak tadi masih setia duduk menunggu kami di depan resto Colonel Sanders ini. Ampun dah….

Kami terus berlari2 kecil menghindari bapak tadi yang sepertinya sadar kalo kami sudah kabur, dari kejauhan kami lihat beliau sedang celingak-celinguk ke dalam KFC. Untuk menghilangkan jejak, kami pun masuk ke pasar yang sore itu masih ramai. Pasar tradisional itu menjual bermacam barang, mulai dari pakaian, sari, sarung, mainan anak2, bunga dan peralatan sembahyang, sampai hp batangan yang di hampar diatas terpal. Unik.

Kandy City


White Buddha


Dari kejauhan kami melihat sebuah Kuil diatas bukit yang akhirnya kami tempuh dengan berjalan kaki. Beberapa supir bajaj menawarkan angkutan dan tour, namun mengingat penghematan dan membuncahnya jiwa petualang, kami pun tetap teguh pendirian untuk jalan kaki. Alhasil, kuil yang terjal itu pun kami capai dalam waktu hampir 1 jam. Fuih… Namun semua daya dan upaya untuk mendaki bukit ini berbuah pemandangan manis. Dari sana tersuguh kota Kandy yang aduhai dengan danau dan Kuil yang mulai gemerlap diterangi kerlipan lampu karena hari sudah mulai gelap. Takut kemalaman dan bertemu atau di patok ular kobra, kami pun kembali ke hotel setelah puas berfoto2 dan bertanya2 dengan para biksu tentang sejarah kuil itu. Kuil itu entah apa namanya, tempat bersemayam patung budha Raksasa berwarna putih. Jika mau, kita bisa memanjat hingga punggung Budha dan menikmati keindahan kota Kandy dari atas sana.

Ingat tadi sempat melewati  bangunan kuno yang sudah alih fungsi, kami pun sempatkan memborong berbagai macam souvenir unik khas sri lanka (brand ODEL) dengan harga lumayan murah disana. Mulai dari gantungan kunci, Fridge Magnet, kaos, pena, mini mug, dompet dan yang paling wajib adalah the dilmah dengan berbagai macam aroma dan rasa dengan harga lokal. 1 Kotaknya yang di Indonesia bisa mencapai ratusan ribu, disana bisa dibeli dengan harga miring. Bahagianya.


third chapter......

Senin, Januari 07, 2013

Lanka..... Lanka..... Lanka..... (first chapter....)

2 hari sebelum keberangkatan, aku pamitan seperti biasanya. "Senin cuti ma, jadi Sabtu ini mau ke KL dulu....". Trus mama nyahut "mau kemana lagi?". "Sri Lanka" mama shock sambil bilang "Haah,,, Jangan lagi kesana... Kan disana sedang perang". Papa yang lagi asik2 makan ngebela "ndak... Udah lama damainya..... Berapa hari di Sri Lanka tu?". "4 hari, Minggu berangkat". Papa curiga " trus kemana lagi (sisa harinya)?" Aku bilang "Kamis transit di KL langsung ke Vietnam" dan reaksi papa adalah.... "Kok ke Vietnam..... Jangan... jangan.....Vietnam kan masih perang......" *akulangsungpingsan

Ayubowan means Selamat Datang.....

Setiap Traveling... aku selalu minta ijin dadakan... ini karena, tak lain dan tak bukan supaya bapak dan emak ku gak perlu mikir panjang buat ngasih ijin. Sebenarnya sih 99% bakal dikasih ijin. Tapi, kategori ngasih ijinnya itu bisa dibagi2 lagi, menjadi ijin doank dan ijin dengan embel2. Embel2 disini bisa titipan oleh2 atau titipan duit Milyaran yang musti aku habiskan pas traveling. Nah... berhubung aku bukan pemboros harta kekayaan keluarga sendiri, jadilah aku mengambil option untuk bilang dan minta ijin dekat2 hari kalau mau pelesir.

Sejujurnya sih, gak gitu2 amat ya.... minta ijin mendadak itu sebenarnya karena rentang waktu beli tiket dan waktu keberangkatannya bisa sampe satu tahun. Soalnya, aku selama ini selalu bergantung sama tiket promo AirAsia yang murahnya selangit dan seangkasa. Kan, gak lucu kalo aku minta ijin berangkat jalan2 nya setelah booking tiket alias 1 tahun sebelum keberangkatan. Jadilah makanya 2 atau 3 hari sebelum flight, aku baru bilang. Awal2 keluarga kaget dengan jalan2 mendadak ala ricodecoro ini. Tapi, berikutnya cuma direspon dengan kalimat: "Jalan2 lagi???". Atauuuu,, "Jalan2 teruuuuussss!!!!!" 

Ini adalah pelesir backpacking terlama ke dua setelah Manila (baca: Manila.. Oh.. Manila the Series) karena bakal menghabiskan cuti 5 hari dari jatah cuti yang cuma 7 akibat hak cuti yang 12 hari udah dipotong 5 hari cuti bersama (nasib company slave...). Dan sudah jauh2 hari pula tanggal keberangkatan ini aku dambakan, ditambah dengan perasaan nervous gila2an mulai dari H-10 sebelum keberangkatan. Nervous lebih karena persiapan yang minim karena info backpackingan ke Sri Lanka yang juga minim serta dalam trip ini bakal ada trip tambahan ke Vietnam yang tadinya gak masuk list. Jadi, aku musti punya dobel ittenerary yang berarti dobel gugling dan dobel hunting2. Itu sama seperti punya pe-er Matematika dan Fisika yang musti dikerjain sekaligus dalam semalam. Atau mirip seperti menghapal rantai Kimia sekaligus menghapal nama2 hewan dalam bahasa latin buat ulangan besok pagi. Menurut pengalaman jaman SMA, menghapal 2 ulangan mata pelajaran berat dalam satu malam itu sama artinya dengan makan nasi kucing trus minumnya baygon pake es. Mateeeek.... Maka dari itu, aku pun fokus lebih ke Sri Lanka ketimbang trip ke Ho Chi Minh City.
Inside Bandaranaike

Journey has starting.......
Seperti biasa, trip selalu bermuara di Pekanbaru.... aku berangkat hari Sabtu sore menuju LCCT Kuala Lumpur... Bandara yang tahun ini saja hampir 10 kali aku datangi... Saking seringnya, ketika nyampe di LCCT, seperti belum berasa diluar negeri.. (Cuih... sombongnyaaaaa........). Penerbangan menuju Colombo Sri Lanka kebetulan besoknya, yaitu hari Minggu jam 11 Siang. Itu artinya aku punya waktu sekitar 12 jam buat melipir pelesir ke tengah kota KL. Tadinya, Bukit Bintang adalah tujuan menginap sebelum kembali ke Bandara. Berhubung pengen suasana agak beda, jadilah aku dan seorang teman menginap di tunehotel di sekitar bandara. Hotel berkonsep murah meriah dan berapa pakai berapa bayar ini lumayan nyaman, apalagi dari jendela kamar kita bisa menyaksikan pesawat naik turun secara live 24 jam... tapi sayangnya, hari itu aku gak cukup beruntung. Soalnya, kamar yang aku pesan, jendelanya berhadapan persis dengan......... KEBUN SAWIT......

Lepas dari check in di tune, aku buru2 kembali lagi ke terminal LCCT. Bukan karena ada yang ketinggalan disana, tapi karena mau mengejar bus yang berangkat menuju tengah kota Kuala Lumpur. Tujuan utama sebenarnya Bukit Bintang. Kenapa Bukit Bintang, karena ada beberapa agenda yang musti aku lakukan di Bukit Bintang selagi transit ini. Agenda pertama adalah makan malam di Chee Meng, berikutnya adalah SHOPPING!!! (kenapa?? iri ya liat aku shopping di KL? haaa?? iriiii????)

Sejak pertama kali gak sengaja makan di Chee Meng maret 2012 lalu, aku jadi selalu pengen makan disana terus setiap kali ke KL. Menu andalan yang aku pesan setiap kesana adalah Nasi Ayam dan Limau Ais.... Simple!!!!

Seperti biasa, Aerobus berhenti di KL Sentral setelah keluar masuk jalan tol hampir 1 jam. Berhubung ke Bukit Bintang kudu pakai monorail, jadilah kita agak jalan keluar memutar dulu menuju stasiun monarail. Mungkin beberapa bulan lagi, jalan terusan dari terminal KL Sentral ke stasiun monorail bakal selesai dan menjadi lebih nyaman bagi pelancong yang dari KL perlu naik monorail ke beberapa tempat.

KL Sentral to Bukit Bintang ongkos nya RM 2.10 atau sekitar Rp. 6000an. 10 menit kemudiaaaan.... taraaaaaa..... sampailah kita di Bukit Bintang... yang dikenal sebagai tourist spot di Kuala Lumpur. Selain rame turis lalu lalang, Bukit Bintang juga dijejali banyak Mall dan Shopping Centre semisal Fahrenheitt, Pavilion, Sungei Wang, BB Plaza, Lot 10 atau Berjaya Times Square  yang berisi toko2 ternama luar negeri. Mulai dari Zara, Luis Vuitton, Uniqlo (brand populer asal jepang), Top Shop, Top Man, Dolce Gabbana, Gucci, H&M, Charles and Keith, Starbucks, Hush Puppies, Nixon and many more... (dibayar berapaaa guwe nyebutin merek2 ini coba.... hufft....)

Dan sayangnya, jalan di Bukit Bintang sedang ada konstruksi. Kabarnya bakal dibuat kereta api bawah tanah nanti disana. Let see beberapa tahun lagi...

Lepas turun dari monorail, kelihatan lah wajah Bukit Bintang yang elegan. Mall bertebaran disana sini. Mobil mewah lalu lalang. Orang sedunia lalu lalang. Jalur monorail membentang di awang2. Wajah kota yang modern dan penarik jutaan turis. I always love this city....

Dari sana... untuk ke Chee Meng, kita harus belok kiri sebelah sisi McD. Lalu terus jalan disisi jalan, sampai ketemu tempat makan sebelah kanan yang selalu ramai. Itulah Chee Meng.

Kenyang dan puas makan, aku langsung nerusin jalan ke Pavilion Mall buat belanja beberapa outfit. Setelah keliling beberapa tempat dan dapat satu Jacket dan sun glasses dari Uniqlo, celana panjang Chinos di Top Man, Celana pendek pantai dari Gap aku pun kembali ke tunehotel di LCCT Area buat istirahat karena pagi2 betul journey ke Sri Lanka bakal dimulai. (pamer belanjaan... *noraaaak....)

Sri Lanka.....
Malam di Malaysia itu selalu singkat, belum puas tidur tapi udah pagi aja. Untungnya pesawat ke Colombo di Reschedule Air Asia dari jam 8 pagi ke jam 12 siang. Jam 10 Pagi kita buru2 check out. dan siap2 melenggang ke terminal keberangkatan. LCCT pagi itu ramai. Lepas sarapan merangkap makan siang di McD, kami pun langsung ke ruang tunggu bandara. Menanti keberangkatan ke negeri yang entah bagaimana bentuknya disana....

3.50'' terbang melintas Sumatera dan Samudera Hindia. Akhirnya kami mendarat di Bandaranaike. Airport kebanggan warga Sri Lanka. Airport yang juga jadi tempat transit beberapa pesawat yang memberangkatkan jemaah haji. Keluar dari pesawat, langsunglah terlihat banyak hal yang biasanya cuma bisa dilihat di film2 india. Ada bule lalu lalang, orang keling yang mukanya ke India-indiaan, kakak2 pramugari yang pake sari dan perutnya keliatan.... ada yang langsing, tapi ada juga yang cuek dengan bodinya yang montok... hahaha... trus juga ada biksu berpakaian kuning kunyit berkepala botak jalan berkelompok. Juga ada rombongan turis yang sibuk berfoto2 sambil ngomong pake bahasa yang familiar tapi dengan kata2 yang aku gak ngerti. Salah satu dari mereka menyela aku dijalan minta fotoin dengan bahasa Inggris yang medok jawa. " Exkyus mi seer... wud yu tek awer pikcer??" katanya sambil nodongin kamera nya ke aku... "sure". jawabku mantap merasa gak dikenali sebagai orang Indonesia. Tapi tiba2 teman ku langsung nyalip omongan dan nanya ke mbak2 'inggris medok' itu "Orang Indonesia juga ya mbak" katanya... si mbak medok langsung kaget dan teriak ke rombongan "Oalaaaaah.... sa iki orang Indonesia juga reeek...." sambil cekikikan yang diikuti cekikikan yang lainnya secara berjamaah.
Cerita punya cerita, ternyata mereka adalah rombongan dosen dan mahasiswa dari Surabaya yang bakal ikut seminar di Colombo, tapi mau ke Negombo dulu jalan2, secara Negombo lebih dekat dari bandara dari pada Negombo. Singkat cerita, kami kenalan..... tau kami mau ke Colombo,  2 orang dari mereka ada yang nawarin tumpangan ke Colombo karena mereka gak jadi ikutan ke Negombo karena udah terlanjur minta jemput sama staff dari kedutaan besar Indonesia di Sri Lanka. Tanpa basa-basi dan gak menyia-nyiakan kesempatan tumpangan yang gak disangka2 itu. Tadinya sih sempat mikir, jauh2 ke Sri Lanka kok ya ketemu orang Indonesia juga.... taunya malah balik bersyukur banget ketemu mereka dan di tumpangi ke Colombo.... Itung2 hemat budget dan jaminan gak nyasar sampe di hostel dah pokoknya... So Lucky!!!

Akhirnya, mobil kedutaan besar Indonesia membawa kami dari Bandaranaike ke Colombo (gaya donk yaaaa.... di jemput secara kenegaraan sama kedutan besar Indonesia......... berasa pentiiiing gituuuu...) yang ternyata cukup jauh, hampir 1 jam 30 menit kami melintasi jalanan Sri Lanka yang berasa gak beda jauh kondisinya dengan jalan2 di kota Kabupaten di Indonesia. Jalanannya 2 lajur persis Indonesia dengan stir di kanan. Colombo sebagai Ibukota Negara Sri Lanka gak terlalu kelihatan metropolitan. Gak sesibuk Jakarta atau sesemrawut Manila, bahkan gak semegah Kuala Lumpur. Lebih kayak kota kabupaten yang baru berkembang. Gedung2 yang keliahatan nampak tua, ada beberapa yang baru, tapi dengan design yang sederhana. Ada ruko dimana2 yang jualannya persis dengan di negara kita. Toserba, toko bangunan, toko kain, bengkel mobil, toko spare part kendaraan berjubel bersisian sepanjang jalan. Bedanya, plang nama toko di tulis dengan tulisan keriting Sinhala ශ්‍රී ලංකාව dan Tamil இலங்கை.
Sampai ditengah kota Colombo, kami diajak sama supir kedubes buat singgah dulu ke kantor Kedutaan Indonesia yang juga merupakan kantor Kedutaan paling besar se Sri Lanka. Bahkan mengalahkan besarnya kedutaan Amerika Serikat. Konon, katanya Sri Lanka punya hubungan yang baik dengan Indonesia dari zaman dahulu kala.
Kami melewati jalan tepi pantai dengan pemandangan spektakuler. Dari jalanan, kita langsung bisa lihat pantai yang landai dan bersih yang di debur oleh ombak lautan India. Pemandangan spektakuler. Dari jalanan, kita bisa lihat bule2 sedang sunbathing cuma pake kolor dan kutang doank... persis kayak ikan asin lagi dijemur. Bergelimpangan. Pemandangan tepi pantai yang landai dari jalanan kayak gitu sebenarnya pernah aku lihat di Turki waktu ke Istanbul. Pemandangannya lebih spektakuler lagi karena pantainya di Turki putih bersih. Beda dengan pantai Sri Lanka yang tanahnya rata2 kecoklatan. Sayangnya di Turki waktu itu gak ada bule panggang bergelimpangan diatas pantai, soalnya cuaca di Istanbul waktu itu hampir 5 derajat. Beku ajaaaa tuh susu.... hahahahahahahahaha...

Menjelang sore, setelah tukar USD ke LKR yang dapatnya jadi banyak banget dan berasa kaya mendadak, kami pun dengan sopan minta diturunin di jalan aja dan berencana naik bajaj (atau tuk tuk sebutan sananya, persis sebutan di Bangkok). Beruntungnya, pak supir yang ngerti dan bisa sedikit bahasa Indonesia ini maksa buat nganterin kami ke hostel di daerah Mt. Lavinia. Kawasan tepi pantai yang bakal jadi tempat nginap kami semalam sembari merencanakan besok mau kemana. Gak pake lama dan nyasar, kami pun sampai didepan hostel yang ternyata adalah rumah bulatan mirip Villa tepi pantai dengan pagar Label kayu tinggi nan megah. Dengan harga nginap 70ribu Rupiah semalam, aku ngerasa beruntung banget bisa dapat tempat nginap tepi pantai dengan view spektakuler. Bahkan dari kamar kami di lantai 2, suara ombak dan aroma pantai kentara terasa. Seketika, aku langsung ngerasa, it's a reaaaallll realllllll reaaaalllll holidaaay........

Setelah menaruh backpack dikamar, kami pun segera meluncur sore itu ke must visit place di Colombo. Di list.... ada Pettah Market, kawasan yang disana ada Gangaramaya Budhist Temple. Sebelum ke Pettah, kita jalan dulu disekitar pantai di Mount Livina. Pantainya gak terlalu bagus, karena di Indonesia kita punya banyak pantai yang lebih bagus dari itu. Lucunya, dipantai banyak orang lokal yang celingak celinguk dan seperti tertarik dengan kehadiran kami. Ada yang senyum dari jauh, ada yang dadah2 gak jelas ke kami, ada yang nyapa2 sok kenal sambil bilang... Ni hao... Ni hao.... (Chinanya gw dimaaaneeeee cobeeeeee.... ) bahkan ada yang minta2 sedekah. Itulah anak2 kurang ajar dan kurang kerjaan di Sri Lanka. Mereka bergantian mengemis2 bilang 'im poor.... im hungry.... no mama.. no papa, give me some money' yang sama sekali gak aku gubris. Sepanjang jalan dia ngekor narik2 tas yang kemudian lama2 bikin aku emosi trus bilang 'im poor too... you know.... i dont have money (for you... my money for my holidaaaay!!!!) am a studeeeent.....' (ngomong gitu, tapi sambil terus jalan dan poto2 kayak turis kaya raya) si anak gembel (yang pura2 gembel) itu pun menyerah dan berhenti ngikutin..... eh, bukannya menghilang, malah dia bawa temen2nya segambreng dan sok sok-an manis minta foto bareng (padahal ujung2nya minta duitnya lebih sadis lagi pasti....). Keinget trik bodoh ini di serial Scam City di National Geographic Channel, aku langsung ngacir dari pantai dan pura2 sok kenal dengan orang lokal yang lagi bawa anaknya jalan. Dia keliatan bukan seperti orang miskin yang jelas. Dia juga keliatan terpelajar. Jadilah aku ngekor dia sampai gak diikutin anak2 gembel yang kalo kena sekali jepret bikin kantong jebol itu, belum lagi ancaman dari preman2 sana yang sok kenal sok dekat... beuuh... Si'terpelajar' itu ngenalin namanya, nama yang bagi orang Indonesia kayak aku ini susah buat mengingatnnya. Setelah gak diikutin lagi, barulah aku nanya ke si'terpelajar' bagaimana buat ke Pettah Market dan melihat Gangaramaya Temple. Dia pun dengan senang hati nganterin aku sampai di Bus yang menuju Gangaramaya Temple.


Dibus,,,,, aku sebangku dengan cewek Tamil yang lumayan cantik. Beruntungnya, cewek itu bisa dan mau ditanya2in macam2 (untungnya bukan mau diapa2in), tentunya dengan bahasa Inggris yang ke India2an. Fyi: Bahasa resmi orang2 Sri Lanka adalah Tamil dan Sinhala, tapi hampir semua orang Sri lanka bisa bahasa Inggris. Jadilah aku nanyain apa yang musti dikunjungi di Colombo, makanan apa yang enak dan khas, berapa lama ke Pettah Market. Hampir setengah jam kami menyusuri jalan kota Colombo yang padat, di bus yang full orang berwajah Tamil dan full musik bernuansa Hindi bangeeett....

Sampai di Pettah Market, si cewek nyuruh aku turun buru2 tepat disebuah danau yang sore itu tenang banget. Sore itu Colombo cerah berawan, aku malah sempat nemuin pelangi separuh lingkaran yang terbingkai di langit Colombo. Keren banget.... 

Taunya, lamat2 pelangi itu membawa hujan... pantesan kok cerah2 gini ada pelangi... taunya ada hujan dibalik pelanginya... kita pun ngacir ke Temple terbesar di kota Colombo itu yang kebetulan sore itu lagi ada upacara sembahyang.... Candinya sederhana dari luar... tapi didalamnya.... berjibunlah harta karun.... beribu-ribu patung Budha terpajang dari segala ukuran, dari bermacam2 material dan tentunya dengan beragam pose.... dan aku pun cuma terngangaaaa..... terngangaaa........ dan disana ternyata juga ada Stupa yang persis Borobudur punya....... Awesome.....


Pulang dari Gangaramaya, kita sewa tuk2 yang akhirnya bisa ditawar2... akhirnya sebelum ke hostel kita minta anterin dulu buat Sholat Isya dan Jamak Maghrib di Mesjid mirip kue lapis karena desainnya unik selang seling merah bata dan putih. Sayang, masjid Jami' Ul Alfar ini lagi dalam perbaikan dan tampak sedikit kotor... 

Pulang dari Pettah yang jaraknya berasa jauuuuuuhhhh banget dari Hostel, kita naik tuk2 dengan penawaran sengit..... setelah tawar menawar, akhirnya kami naik dengan ongkos LKR 150 atau sekitar Rp.12000-an (cukup murah untuk jarak yang jauh... ini didapat karena kebetulan supirnya muslim... jadilah kami bawa2 agama demi naik bajaj murah.... ampuuuunnn ya Allaaaaaaah...... tapi yang jelas abang2 bajajnya ikhlas koook...)

Sampai di Hostel, dikamar sudah ada Craig bule Inggris, 1 bule tua entah dari mana... terusss... ada Derek backpacker asal Filipina yang udah 2 Bulan keliling Sri Lanka dan besoknya mau ke India dan ada bule dari South Africa yang besok pagi mau ke Hongkong dan setelahnya berencana ke Indonesia. Mereka semua ramah dan semangat diajak cerita tentang pengalaman backpacking masing2. Derek yang paling enak diajak ngobrol, mungkin karena sama2 dari Asia, dia jadi yang lebih banyak ngasi masukan buat kita-kemana-besok dari pada yang lain. Derek bilang, mending besok pagi2 kami ke Kandy, keliling seharian dan besoknya bisa lanjut ke Dambulla-Sigiriya, terus balik pulang via Kurunegala menuju Negombo. Finally.... Ittenerary Derek buat kami yang cuma punya waktu singkat di Sri Lanka adalah pilihan terbaik yang bakal di uji coba besok hari...... dan tentunya tanpa mereka tahu,,, Besok pagi adalah my Birthday... la la la............ (Norak....)


second chapter....