Tampilkan postingan dengan label travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label travelling. Tampilkan semua postingan

Senin, Januari 07, 2013

Lanka..... Lanka..... Lanka..... (first chapter....)

2 hari sebelum keberangkatan, aku pamitan seperti biasanya. "Senin cuti ma, jadi Sabtu ini mau ke KL dulu....". Trus mama nyahut "mau kemana lagi?". "Sri Lanka" mama shock sambil bilang "Haah,,, Jangan lagi kesana... Kan disana sedang perang". Papa yang lagi asik2 makan ngebela "ndak... Udah lama damainya..... Berapa hari di Sri Lanka tu?". "4 hari, Minggu berangkat". Papa curiga " trus kemana lagi (sisa harinya)?" Aku bilang "Kamis transit di KL langsung ke Vietnam" dan reaksi papa adalah.... "Kok ke Vietnam..... Jangan... jangan.....Vietnam kan masih perang......" *akulangsungpingsan

Ayubowan means Selamat Datang.....

Setiap Traveling... aku selalu minta ijin dadakan... ini karena, tak lain dan tak bukan supaya bapak dan emak ku gak perlu mikir panjang buat ngasih ijin. Sebenarnya sih 99% bakal dikasih ijin. Tapi, kategori ngasih ijinnya itu bisa dibagi2 lagi, menjadi ijin doank dan ijin dengan embel2. Embel2 disini bisa titipan oleh2 atau titipan duit Milyaran yang musti aku habiskan pas traveling. Nah... berhubung aku bukan pemboros harta kekayaan keluarga sendiri, jadilah aku mengambil option untuk bilang dan minta ijin dekat2 hari kalau mau pelesir.

Sejujurnya sih, gak gitu2 amat ya.... minta ijin mendadak itu sebenarnya karena rentang waktu beli tiket dan waktu keberangkatannya bisa sampe satu tahun. Soalnya, aku selama ini selalu bergantung sama tiket promo AirAsia yang murahnya selangit dan seangkasa. Kan, gak lucu kalo aku minta ijin berangkat jalan2 nya setelah booking tiket alias 1 tahun sebelum keberangkatan. Jadilah makanya 2 atau 3 hari sebelum flight, aku baru bilang. Awal2 keluarga kaget dengan jalan2 mendadak ala ricodecoro ini. Tapi, berikutnya cuma direspon dengan kalimat: "Jalan2 lagi???". Atauuuu,, "Jalan2 teruuuuussss!!!!!" 

Ini adalah pelesir backpacking terlama ke dua setelah Manila (baca: Manila.. Oh.. Manila the Series) karena bakal menghabiskan cuti 5 hari dari jatah cuti yang cuma 7 akibat hak cuti yang 12 hari udah dipotong 5 hari cuti bersama (nasib company slave...). Dan sudah jauh2 hari pula tanggal keberangkatan ini aku dambakan, ditambah dengan perasaan nervous gila2an mulai dari H-10 sebelum keberangkatan. Nervous lebih karena persiapan yang minim karena info backpackingan ke Sri Lanka yang juga minim serta dalam trip ini bakal ada trip tambahan ke Vietnam yang tadinya gak masuk list. Jadi, aku musti punya dobel ittenerary yang berarti dobel gugling dan dobel hunting2. Itu sama seperti punya pe-er Matematika dan Fisika yang musti dikerjain sekaligus dalam semalam. Atau mirip seperti menghapal rantai Kimia sekaligus menghapal nama2 hewan dalam bahasa latin buat ulangan besok pagi. Menurut pengalaman jaman SMA, menghapal 2 ulangan mata pelajaran berat dalam satu malam itu sama artinya dengan makan nasi kucing trus minumnya baygon pake es. Mateeeek.... Maka dari itu, aku pun fokus lebih ke Sri Lanka ketimbang trip ke Ho Chi Minh City.
Inside Bandaranaike

Journey has starting.......
Seperti biasa, trip selalu bermuara di Pekanbaru.... aku berangkat hari Sabtu sore menuju LCCT Kuala Lumpur... Bandara yang tahun ini saja hampir 10 kali aku datangi... Saking seringnya, ketika nyampe di LCCT, seperti belum berasa diluar negeri.. (Cuih... sombongnyaaaaa........). Penerbangan menuju Colombo Sri Lanka kebetulan besoknya, yaitu hari Minggu jam 11 Siang. Itu artinya aku punya waktu sekitar 12 jam buat melipir pelesir ke tengah kota KL. Tadinya, Bukit Bintang adalah tujuan menginap sebelum kembali ke Bandara. Berhubung pengen suasana agak beda, jadilah aku dan seorang teman menginap di tunehotel di sekitar bandara. Hotel berkonsep murah meriah dan berapa pakai berapa bayar ini lumayan nyaman, apalagi dari jendela kamar kita bisa menyaksikan pesawat naik turun secara live 24 jam... tapi sayangnya, hari itu aku gak cukup beruntung. Soalnya, kamar yang aku pesan, jendelanya berhadapan persis dengan......... KEBUN SAWIT......

Lepas dari check in di tune, aku buru2 kembali lagi ke terminal LCCT. Bukan karena ada yang ketinggalan disana, tapi karena mau mengejar bus yang berangkat menuju tengah kota Kuala Lumpur. Tujuan utama sebenarnya Bukit Bintang. Kenapa Bukit Bintang, karena ada beberapa agenda yang musti aku lakukan di Bukit Bintang selagi transit ini. Agenda pertama adalah makan malam di Chee Meng, berikutnya adalah SHOPPING!!! (kenapa?? iri ya liat aku shopping di KL? haaa?? iriiii????)

Sejak pertama kali gak sengaja makan di Chee Meng maret 2012 lalu, aku jadi selalu pengen makan disana terus setiap kali ke KL. Menu andalan yang aku pesan setiap kesana adalah Nasi Ayam dan Limau Ais.... Simple!!!!

Seperti biasa, Aerobus berhenti di KL Sentral setelah keluar masuk jalan tol hampir 1 jam. Berhubung ke Bukit Bintang kudu pakai monorail, jadilah kita agak jalan keluar memutar dulu menuju stasiun monarail. Mungkin beberapa bulan lagi, jalan terusan dari terminal KL Sentral ke stasiun monorail bakal selesai dan menjadi lebih nyaman bagi pelancong yang dari KL perlu naik monorail ke beberapa tempat.

KL Sentral to Bukit Bintang ongkos nya RM 2.10 atau sekitar Rp. 6000an. 10 menit kemudiaaaan.... taraaaaaa..... sampailah kita di Bukit Bintang... yang dikenal sebagai tourist spot di Kuala Lumpur. Selain rame turis lalu lalang, Bukit Bintang juga dijejali banyak Mall dan Shopping Centre semisal Fahrenheitt, Pavilion, Sungei Wang, BB Plaza, Lot 10 atau Berjaya Times Square  yang berisi toko2 ternama luar negeri. Mulai dari Zara, Luis Vuitton, Uniqlo (brand populer asal jepang), Top Shop, Top Man, Dolce Gabbana, Gucci, H&M, Charles and Keith, Starbucks, Hush Puppies, Nixon and many more... (dibayar berapaaa guwe nyebutin merek2 ini coba.... hufft....)

Dan sayangnya, jalan di Bukit Bintang sedang ada konstruksi. Kabarnya bakal dibuat kereta api bawah tanah nanti disana. Let see beberapa tahun lagi...

Lepas turun dari monorail, kelihatan lah wajah Bukit Bintang yang elegan. Mall bertebaran disana sini. Mobil mewah lalu lalang. Orang sedunia lalu lalang. Jalur monorail membentang di awang2. Wajah kota yang modern dan penarik jutaan turis. I always love this city....

Dari sana... untuk ke Chee Meng, kita harus belok kiri sebelah sisi McD. Lalu terus jalan disisi jalan, sampai ketemu tempat makan sebelah kanan yang selalu ramai. Itulah Chee Meng.

Kenyang dan puas makan, aku langsung nerusin jalan ke Pavilion Mall buat belanja beberapa outfit. Setelah keliling beberapa tempat dan dapat satu Jacket dan sun glasses dari Uniqlo, celana panjang Chinos di Top Man, Celana pendek pantai dari Gap aku pun kembali ke tunehotel di LCCT Area buat istirahat karena pagi2 betul journey ke Sri Lanka bakal dimulai. (pamer belanjaan... *noraaaak....)

Sri Lanka.....
Malam di Malaysia itu selalu singkat, belum puas tidur tapi udah pagi aja. Untungnya pesawat ke Colombo di Reschedule Air Asia dari jam 8 pagi ke jam 12 siang. Jam 10 Pagi kita buru2 check out. dan siap2 melenggang ke terminal keberangkatan. LCCT pagi itu ramai. Lepas sarapan merangkap makan siang di McD, kami pun langsung ke ruang tunggu bandara. Menanti keberangkatan ke negeri yang entah bagaimana bentuknya disana....

3.50'' terbang melintas Sumatera dan Samudera Hindia. Akhirnya kami mendarat di Bandaranaike. Airport kebanggan warga Sri Lanka. Airport yang juga jadi tempat transit beberapa pesawat yang memberangkatkan jemaah haji. Keluar dari pesawat, langsunglah terlihat banyak hal yang biasanya cuma bisa dilihat di film2 india. Ada bule lalu lalang, orang keling yang mukanya ke India-indiaan, kakak2 pramugari yang pake sari dan perutnya keliatan.... ada yang langsing, tapi ada juga yang cuek dengan bodinya yang montok... hahaha... trus juga ada biksu berpakaian kuning kunyit berkepala botak jalan berkelompok. Juga ada rombongan turis yang sibuk berfoto2 sambil ngomong pake bahasa yang familiar tapi dengan kata2 yang aku gak ngerti. Salah satu dari mereka menyela aku dijalan minta fotoin dengan bahasa Inggris yang medok jawa. " Exkyus mi seer... wud yu tek awer pikcer??" katanya sambil nodongin kamera nya ke aku... "sure". jawabku mantap merasa gak dikenali sebagai orang Indonesia. Tapi tiba2 teman ku langsung nyalip omongan dan nanya ke mbak2 'inggris medok' itu "Orang Indonesia juga ya mbak" katanya... si mbak medok langsung kaget dan teriak ke rombongan "Oalaaaaah.... sa iki orang Indonesia juga reeek...." sambil cekikikan yang diikuti cekikikan yang lainnya secara berjamaah.
Cerita punya cerita, ternyata mereka adalah rombongan dosen dan mahasiswa dari Surabaya yang bakal ikut seminar di Colombo, tapi mau ke Negombo dulu jalan2, secara Negombo lebih dekat dari bandara dari pada Negombo. Singkat cerita, kami kenalan..... tau kami mau ke Colombo,  2 orang dari mereka ada yang nawarin tumpangan ke Colombo karena mereka gak jadi ikutan ke Negombo karena udah terlanjur minta jemput sama staff dari kedutaan besar Indonesia di Sri Lanka. Tanpa basa-basi dan gak menyia-nyiakan kesempatan tumpangan yang gak disangka2 itu. Tadinya sih sempat mikir, jauh2 ke Sri Lanka kok ya ketemu orang Indonesia juga.... taunya malah balik bersyukur banget ketemu mereka dan di tumpangi ke Colombo.... Itung2 hemat budget dan jaminan gak nyasar sampe di hostel dah pokoknya... So Lucky!!!

Akhirnya, mobil kedutaan besar Indonesia membawa kami dari Bandaranaike ke Colombo (gaya donk yaaaa.... di jemput secara kenegaraan sama kedutan besar Indonesia......... berasa pentiiiing gituuuu...) yang ternyata cukup jauh, hampir 1 jam 30 menit kami melintasi jalanan Sri Lanka yang berasa gak beda jauh kondisinya dengan jalan2 di kota Kabupaten di Indonesia. Jalanannya 2 lajur persis Indonesia dengan stir di kanan. Colombo sebagai Ibukota Negara Sri Lanka gak terlalu kelihatan metropolitan. Gak sesibuk Jakarta atau sesemrawut Manila, bahkan gak semegah Kuala Lumpur. Lebih kayak kota kabupaten yang baru berkembang. Gedung2 yang keliahatan nampak tua, ada beberapa yang baru, tapi dengan design yang sederhana. Ada ruko dimana2 yang jualannya persis dengan di negara kita. Toserba, toko bangunan, toko kain, bengkel mobil, toko spare part kendaraan berjubel bersisian sepanjang jalan. Bedanya, plang nama toko di tulis dengan tulisan keriting Sinhala ශ්‍රී ලංකාව dan Tamil இலங்கை.
Sampai ditengah kota Colombo, kami diajak sama supir kedubes buat singgah dulu ke kantor Kedutaan Indonesia yang juga merupakan kantor Kedutaan paling besar se Sri Lanka. Bahkan mengalahkan besarnya kedutaan Amerika Serikat. Konon, katanya Sri Lanka punya hubungan yang baik dengan Indonesia dari zaman dahulu kala.
Kami melewati jalan tepi pantai dengan pemandangan spektakuler. Dari jalanan, kita langsung bisa lihat pantai yang landai dan bersih yang di debur oleh ombak lautan India. Pemandangan spektakuler. Dari jalanan, kita bisa lihat bule2 sedang sunbathing cuma pake kolor dan kutang doank... persis kayak ikan asin lagi dijemur. Bergelimpangan. Pemandangan tepi pantai yang landai dari jalanan kayak gitu sebenarnya pernah aku lihat di Turki waktu ke Istanbul. Pemandangannya lebih spektakuler lagi karena pantainya di Turki putih bersih. Beda dengan pantai Sri Lanka yang tanahnya rata2 kecoklatan. Sayangnya di Turki waktu itu gak ada bule panggang bergelimpangan diatas pantai, soalnya cuaca di Istanbul waktu itu hampir 5 derajat. Beku ajaaaa tuh susu.... hahahahahahahahaha...

Menjelang sore, setelah tukar USD ke LKR yang dapatnya jadi banyak banget dan berasa kaya mendadak, kami pun dengan sopan minta diturunin di jalan aja dan berencana naik bajaj (atau tuk tuk sebutan sananya, persis sebutan di Bangkok). Beruntungnya, pak supir yang ngerti dan bisa sedikit bahasa Indonesia ini maksa buat nganterin kami ke hostel di daerah Mt. Lavinia. Kawasan tepi pantai yang bakal jadi tempat nginap kami semalam sembari merencanakan besok mau kemana. Gak pake lama dan nyasar, kami pun sampai didepan hostel yang ternyata adalah rumah bulatan mirip Villa tepi pantai dengan pagar Label kayu tinggi nan megah. Dengan harga nginap 70ribu Rupiah semalam, aku ngerasa beruntung banget bisa dapat tempat nginap tepi pantai dengan view spektakuler. Bahkan dari kamar kami di lantai 2, suara ombak dan aroma pantai kentara terasa. Seketika, aku langsung ngerasa, it's a reaaaallll realllllll reaaaalllll holidaaay........

Setelah menaruh backpack dikamar, kami pun segera meluncur sore itu ke must visit place di Colombo. Di list.... ada Pettah Market, kawasan yang disana ada Gangaramaya Budhist Temple. Sebelum ke Pettah, kita jalan dulu disekitar pantai di Mount Livina. Pantainya gak terlalu bagus, karena di Indonesia kita punya banyak pantai yang lebih bagus dari itu. Lucunya, dipantai banyak orang lokal yang celingak celinguk dan seperti tertarik dengan kehadiran kami. Ada yang senyum dari jauh, ada yang dadah2 gak jelas ke kami, ada yang nyapa2 sok kenal sambil bilang... Ni hao... Ni hao.... (Chinanya gw dimaaaneeeee cobeeeeee.... ) bahkan ada yang minta2 sedekah. Itulah anak2 kurang ajar dan kurang kerjaan di Sri Lanka. Mereka bergantian mengemis2 bilang 'im poor.... im hungry.... no mama.. no papa, give me some money' yang sama sekali gak aku gubris. Sepanjang jalan dia ngekor narik2 tas yang kemudian lama2 bikin aku emosi trus bilang 'im poor too... you know.... i dont have money (for you... my money for my holidaaaay!!!!) am a studeeeent.....' (ngomong gitu, tapi sambil terus jalan dan poto2 kayak turis kaya raya) si anak gembel (yang pura2 gembel) itu pun menyerah dan berhenti ngikutin..... eh, bukannya menghilang, malah dia bawa temen2nya segambreng dan sok sok-an manis minta foto bareng (padahal ujung2nya minta duitnya lebih sadis lagi pasti....). Keinget trik bodoh ini di serial Scam City di National Geographic Channel, aku langsung ngacir dari pantai dan pura2 sok kenal dengan orang lokal yang lagi bawa anaknya jalan. Dia keliatan bukan seperti orang miskin yang jelas. Dia juga keliatan terpelajar. Jadilah aku ngekor dia sampai gak diikutin anak2 gembel yang kalo kena sekali jepret bikin kantong jebol itu, belum lagi ancaman dari preman2 sana yang sok kenal sok dekat... beuuh... Si'terpelajar' itu ngenalin namanya, nama yang bagi orang Indonesia kayak aku ini susah buat mengingatnnya. Setelah gak diikutin lagi, barulah aku nanya ke si'terpelajar' bagaimana buat ke Pettah Market dan melihat Gangaramaya Temple. Dia pun dengan senang hati nganterin aku sampai di Bus yang menuju Gangaramaya Temple.


Dibus,,,,, aku sebangku dengan cewek Tamil yang lumayan cantik. Beruntungnya, cewek itu bisa dan mau ditanya2in macam2 (untungnya bukan mau diapa2in), tentunya dengan bahasa Inggris yang ke India2an. Fyi: Bahasa resmi orang2 Sri Lanka adalah Tamil dan Sinhala, tapi hampir semua orang Sri lanka bisa bahasa Inggris. Jadilah aku nanyain apa yang musti dikunjungi di Colombo, makanan apa yang enak dan khas, berapa lama ke Pettah Market. Hampir setengah jam kami menyusuri jalan kota Colombo yang padat, di bus yang full orang berwajah Tamil dan full musik bernuansa Hindi bangeeett....

Sampai di Pettah Market, si cewek nyuruh aku turun buru2 tepat disebuah danau yang sore itu tenang banget. Sore itu Colombo cerah berawan, aku malah sempat nemuin pelangi separuh lingkaran yang terbingkai di langit Colombo. Keren banget.... 

Taunya, lamat2 pelangi itu membawa hujan... pantesan kok cerah2 gini ada pelangi... taunya ada hujan dibalik pelanginya... kita pun ngacir ke Temple terbesar di kota Colombo itu yang kebetulan sore itu lagi ada upacara sembahyang.... Candinya sederhana dari luar... tapi didalamnya.... berjibunlah harta karun.... beribu-ribu patung Budha terpajang dari segala ukuran, dari bermacam2 material dan tentunya dengan beragam pose.... dan aku pun cuma terngangaaaa..... terngangaaa........ dan disana ternyata juga ada Stupa yang persis Borobudur punya....... Awesome.....


Pulang dari Gangaramaya, kita sewa tuk2 yang akhirnya bisa ditawar2... akhirnya sebelum ke hostel kita minta anterin dulu buat Sholat Isya dan Jamak Maghrib di Mesjid mirip kue lapis karena desainnya unik selang seling merah bata dan putih. Sayang, masjid Jami' Ul Alfar ini lagi dalam perbaikan dan tampak sedikit kotor... 

Pulang dari Pettah yang jaraknya berasa jauuuuuuhhhh banget dari Hostel, kita naik tuk2 dengan penawaran sengit..... setelah tawar menawar, akhirnya kami naik dengan ongkos LKR 150 atau sekitar Rp.12000-an (cukup murah untuk jarak yang jauh... ini didapat karena kebetulan supirnya muslim... jadilah kami bawa2 agama demi naik bajaj murah.... ampuuuunnn ya Allaaaaaaah...... tapi yang jelas abang2 bajajnya ikhlas koook...)

Sampai di Hostel, dikamar sudah ada Craig bule Inggris, 1 bule tua entah dari mana... terusss... ada Derek backpacker asal Filipina yang udah 2 Bulan keliling Sri Lanka dan besoknya mau ke India dan ada bule dari South Africa yang besok pagi mau ke Hongkong dan setelahnya berencana ke Indonesia. Mereka semua ramah dan semangat diajak cerita tentang pengalaman backpacking masing2. Derek yang paling enak diajak ngobrol, mungkin karena sama2 dari Asia, dia jadi yang lebih banyak ngasi masukan buat kita-kemana-besok dari pada yang lain. Derek bilang, mending besok pagi2 kami ke Kandy, keliling seharian dan besoknya bisa lanjut ke Dambulla-Sigiriya, terus balik pulang via Kurunegala menuju Negombo. Finally.... Ittenerary Derek buat kami yang cuma punya waktu singkat di Sri Lanka adalah pilihan terbaik yang bakal di uji coba besok hari...... dan tentunya tanpa mereka tahu,,, Besok pagi adalah my Birthday... la la la............ (Norak....)


second chapter....

Minggu, Oktober 07, 2012

Manila.... Oh.... Manila..... (part 5 - the end)

Badai...... pasti berlalu....... dan aku setuju.....

Benar kata kak Katty Pery dilagu Firework-nya: 'after a hurricane,,,,, comes a rainbow....'. Manila cemerlang pagi itu. Aku bangun dengan gembira. Para penghuni Hostel lain juga keliatan lebih semangat setelah seharian terkurung. Sarapan (yang harus dibikin dan diambil sendiri) sudah disediakan El di pantry. Ada berbagai roti semisal tawar, gandum, gandum import, gandum lokal disajikan disana, lengkap dengan 5 macam selai yang nyummy. Kalo mau, kita juga bisa toast sebentar rotinya, soalnya.... tiap2 Hostel biasanya udah menyediakan keperluan sarapan ala western di dapurnya. Kita juga bisa buat kopi atau teh celup gratis bahkan mungkin 'teh talua' disana (repot aja ngocok telornya ya....). Persyaratan tidak tertulis yang musti dilakukan setelah sarapan oleh tiap traveler adalah mencuci piring sendiri. Yap, ketika lu traveling sekalipun, lu bakal diajarin bagaimana cara menghargai orang lain semisal mencuci piring (yang abis lu pakai) sendiri sehabis makan. Itulah salah satu bedanya Hostel dengan Hotel. Selain jauh lebih murah, kita juga bisa berbaur dengan backpacker asing yang punya visi yang sama, yaitu.... keliling dunia gak pake mahal. Dan rata2, backpacker bule itu jauh lebih ramah dan menyenangkan diajak ngobrol bahkan suka sok akrab ketika tau kalo kita dari Indonesia. Kenapa??? Persepsi aku adalah karena rata2 bagi backpacker asing yang pernah aku temui, Indonesia adalah negara tujuan backpacker paling populer sekaligus yang lumayan sulit (dan sangat menantang) untuk di jelajah. Indonesia gak semelulu gampang di tempuh semisal ke Bangkok atau Manila. Beberapa bule ngaku pengen banget ke Raja Ampat atau ke Toraja, tapi mereka minim informasi. Beberapa lainnya juga bilang moda transportasi di Indo cukup complicated, ditambah lagi Indonesia adalah negara paling luas di Asia Tenggara. Cobalah ke Singapura.... disana ada MRT. Ke Malaysia.... ada KTM atau LRT, juga ada Monorail. Ke Manila, juga ada LRT dan Jeepney. Indonesia sih punya juta kereta api, tapi untuk orang Indonesia sendiri aja kurang nyaman, apalagi untuk pelancong. Juga, beberapa spot yang harusnya dikembangkan jadi tempat pariwisata belum dikelola secara benar oleh pemerintah dan Pemda. Padahal, Indonesia is a beautiful city loh... (kata Nadine.... *haaaaks..)

Selesai sarapan, Benny udah nongol pake celana pendek santai dan kaos biru + payung yang dia bilang sengaja dibawa karena seharian dijamin Manila bakalan terik (hey Beeen,,,, apa kabar Pekanbaru..........). Dan betul aja....... Manila siang itu terik banget.... sampe kulit berasa Sunburn... kata Benny, itu karena Manila adalah kota yang berada di tepi laut.

Agenda Benny adalah..... dari Hostel ku dikawasan Malate, kita ke Rizal Park yang bisa ditempuh dengan jalan kaki. Awalnya Benny ngajak naik Jeepney atau taxi, karena mengingat pengiritan, jadilah aku paksa dia jalan kaki aja, sekalian ngeles pengen ngerasain suasana pagi (after thypoon) di sana.

Rizal Park adalah taman di tengah kota Manila yang gedeeeeeee banget. Disana ada Rizal Monumen, semacam tugu yang mengenang perjuangan pahlawan nasional Jose Rizal. Jose Rizal disebut pahlawan karena perjuangannya melawan penjajah sampai akhirnya beliau di hukum mati. Menariknya, semakin dalam kita masuk ke Rizal Park, kita bakal ketemu jejak-jejak kaki rizal (dioarama kematian) yang menggiring kita dari selnya sampai ke tempat dia di eksekusi. Benny bilang, too many drama's in Manila..... (mungkin karena dia orang lokal, dia menganggap penggambaran jejak kaki itu sebagai sesuatu yang berlebihan....)

Makin masuk kedalam, kita bakal ketemu banyak patung pahlawan2 Filipina disana. Salah satunya pahlawan nasional yang namanya Lapu-lapu. Lapu-lapu dijuluki Datu atau Datuk karena perjuangannya melawan bangsa Spanyol waktu jaman penjajahan bergaung sampe luar Filipina, yaitu Indonesia dan Malaysia. Selain sebagai pahlawan nasional pertama, Beliau juga seorang muslim. Dan disini, aku baru ngerasa kalo Indonesia dan Filipina dulunya adalah bangsa yang satu tanpa batas seperti sekarang. Mungkin itu yang dulu disebut Patih Gajah Mada sebagai sesuatu yang disebut Nusantara. We are Family!!!!

Jauh makin kedalam, kita bakal ngelewati semacam taman yang disebut Japanese Garden. Japanese Garden, dibuat sebagai tanda persahabatan Filipina dan Jepang. Disana ada banyak tanaman khas Jepang seperti Sakura, yang kata Benny kalau bunganya mekar suka ada festival yang dibuat disana. Kalau kita ngeliat ke arah depannya, kita bakal ngeliat beberapa gedung yang sekerang difungsikan sebagai museum. Salah satunya Museum Of the Filipino People atau Museum Rakyat. Benny bilang, dia cuma sekali masuk kesana dulu waktu karya wisata jaman sekolah.

Hari yang terik tadi tiba2 gerimis, gerimisnya lama2 bikin basah. Kita pun 'terpaksa' berteduh melipir ke Museum Rakyat Filipina. Benny yang tadinya ogah2an, akhirnya pasrah pas aku ajak buat masuk ke Museum sambil nunggu gerimis reda. Benny bilang, Museum ini gratis untuk pinoy dan harusnya aku yang berwajah pinoy ini juga gratis. Jadilah aku berpura2 jadi pinoy. Tapi, karcisnya ternyata cuma 100 apa 200 Peso-an (gak nyampe 5000-an Rupiah). Jadilah aku menjelma jadi turis yang baik dengan ngebayar karcisnya dengan alasan untuk koleksi,,,,

Didalam Museum sebenarnya gak beda jauh dengan Museum2 sejarah pada umumnya. Disana diceritakan perkembangan peradaban manusia di Filipina dari jaman prasejarah sampe sekarang. Ada juga sedikit ngebawa2 Indonesia disana. Pokoknya, disana digambarkan bahwa orang Filipina punya kekerabatan yang kuat dengan orang2 Indonesia. Bahkan ada beberapa wilayah di Filipina yang kosa katanya mirip dengan Bahasa Indonesia, walau dengan aksen pengucapan yang berbeda semisal, Payung disebut Payong atau Hujan disebut Ulan. Yang jelas,,,,, kalo isi museum aku ceritain semua disini, mungkin aku bakal dapat Nobel dari pemerintah sana. Maka, kita skip bagian Museum.


courtesy of lawstude.net

Lepas dari Museum, Benny masih semangat buat nge-guide aku walau musti jalan lagi demi mencapai Intramuros. Ini adalah tempat yang digadang2 menjadi tempat yang paling Europe di Manila. Hampir semua travel guide bakal nyaranin kita kesana. Intramuros sebenarnya Kota didalam Kota.... nah lo......... Benny bilang, dulunya Intramuros dibuat hanya untuk ditempati orang2 Spanyol. Orang lokal dan keturunan China sama sekali dilarang masuk kesana kecuali pada acara tertentu. Didalam ada banyak bangunan semacam bangunan gereja, gedung pemerintahan, kediaman2 orang penting yang sekarang difungsikan sebagai sekolahan. Maka, kalo kita berkunjung ke Intramuros, datanglah pada jam pulang sekolahan. Dijamin, kita bakal nemuin beribu pinay wokeh dan pinoy2 separoh asia separoh eropa berjejal-jejal dijalanan sambil makan baso stik babi...... yucks!!!!

Benny sempat mengajak buat naik keatas tembok Intramuros yang difungsikan sebagai Benteng mata2. Disana ada meriam yang masih terawat. Dari atas kita juga bisa melihat Bangunan bekas penjajah yang sekarang berfungsi sebagai walikota, persis gedung sate di bandung tapi dengan menara semacam jam berkubah dengan lonceng ditengahnya. Sedangkan kalo kita melihat kebawah, maka yang ada bukanlah taman bunga atau semacamnya, tapi justru lapangan golf modern. Pemandangan yang kalo aku bilang cukup aneh di bangunan se-bersejarah Intramuros. Ada sekitar 1 jam kita putar2 disana, yang kemudian di langsirkan Benny menuju Fort Santiago.









Intramuros ke Fort Santiago bisa sambil guling2 atau sambil koprol trus bilang WOW.... kikikikk....

Fort Santiago sendiri masih berada di lingkungan Intramuros. Dulunya, Fort Santiago adalah bentengnya Rajah Sulaiman. Rajah Sulaiman itu adalah Raja bangsa melayu jaman dulu. Sebelum Portugis datang, nama Fort Santiago adalah Maynilad yang kemudian dipakai sampai sekarang menjadi nama ibukota Filipina. (Teeeet.... lama2 gw jadi guru sejarah juga nih...)

Banyak sebenarnya yang mau diceritakan tentang Intramuros dan Fort Santiago.... tapi... biarlah gambar2 berikut yang bercerita.





Puas keliling tempat bersejarah, Benny ngajak cari oleh2. Awalnya kita ke Chinatown-nya Manila...atau nama kerennya Quiapo (baca: kiapo) sebelum belanja, Benny nantangin aku makan Balut. Balut itu bukan belut, tapi telor ayam rebus yang isinya adalah anak ayam (embrio ayam setengah jadi) yang lagi kinyis2nya. Benny bilang, rasanya enak dan gurih + kreess kress kalo dikunyah... gak semengerikan keliatannya. Tapi, dari pada terjadi pertumpahan muntah dinegeri orang, gara2 makanan khas ala fear factor itu, aku pun milih nyerah dan janji bakal traktir Benny Halo-Halo nanti.....


Halo2... semacam es campur khas Filipina
 Di Quiapo, juga ada gereja terbesar yang pas kita datang lagi misa. Karena penasaran, akupun ngajak Benny masuk. Poto2 didalam sebentar (ditengah2 misa) terus keluar lagi... dan Benny bilang... it is my 5 minute being more religious..... i almost 1 month did not going to church,,,, (beuh,,,, masuk cuma poto2, kok dibilang 5 menit teralim..... )

Abis dari Quiapo, kita langsir lagi ke pasar souvenir yang harganya miring banget. Posisinya dibawah Fly Over. Sialnya, mulai dari sana, banyak barang yang kebawa.....

Menjelang jam 5, aku pun dapat sms dari Ayka, cewek Filipina yang pengen banget ketemu aku gara2 dia pernah ke Batam pas Study Tour di Singapura. Ayka lumayan bisa percakapan dasar Bahasa Indonesia. Karena selain dia tertarik belajar Bahasa, di kantornya juga ada beberapa orang Indonesia. Jadilah akhirnya kita ketemua di Mall yang namanya Greenbelt. Konon katanya.... Greenbelt itu Mall yang sambung menyambung menjadi satu... Mall dengan konsep taman yang jadi tempat kongkow pinoy after hours ini, kabarnya ditandai sampai dengan 5 tempat. Untungnya Ayka ngajak ketemuan di Greenbelt 3. Sekalinya ketemu, ini cewek menyenangkan banget... dan seruuuu,,, parasnya juga lumayan cantik. Ayka bela2in bawa oleh2 spesial khas Filipina kayak Polvoron, kue kacang sama coklat2 yang nyummy tapi halal. Habis sejam buat kongkow sama Ayka dan Benny. Ayka pun pamit karena mau ngejar Train buat pulang...


Dari Greenbelt, kita ngacir pake taksi (yang dibayarin Benny) ke SM Mall... Mall of Asia yang diklaim sebagai Mall paling besar di Asia. Mall ini punya salah satu orang terkaya di Filipina. yang pembangunannya diatas rawa2 tepi pantai. Di lantai atasnya, kita bisa lihat pemandangan ke arah laut yang bagus banget... tapi sayang, kami keburu gelap nyampe di SM Mall. Muterin SM Mall bikin pegel dan pastinya bikin kantong makin jebol.... menjelang malam, kita ngadem di pinggiran Manila Bay gak jauh dari SM Mall. disana lumayan rame. Ada kafe2, ada panggung musik, ada kios2 majalah yang cuek majang majalah nganu, ada orang2 pacaran yang cipokan sampe udah kayak bintang bokep. Aku cuma bisa mengurut dada ngeliat kelakuan anak muda Manila jaman sekarang.... (Nah,,,, emangnya lo siape corrrr...........)

Besok paginya, Aku gak lagi nginap di Where 2 Next Hostel di Malate. Benny bersedia nampung aku di flat nya di hari terakhir di Manila. Secara rumah Benny lumayan dekat dari terminal Pasay. Agak siangan, Benny nongol. Akupun pamit ke El yang kebetulan lagi di meja receptionist Hostel. Vicky lagi keluar katanya. Jadilah aku cuma titip salam aja sekalian pamit dan entah kapan ketemu 2 kakak beradik itu lagi...

Dari Malate, Benny ngajak kerumahnya naruh barang2. Tinggal sehari lagi aku menghirup aroma Manila. Rasanya kayak gak lagi liburan di luar negeri, karena Manila feels like home... atmosfirnya persis...... orang2 nya mirip...... ramah tamahnya juga bagus....



Tiba2 aku nyelutuk nanyain program Master Degree disana. Benny kemudian punya ide buat muter2 ke UP. University of Philippines yang juga tempat kuliah bang Christian Bautista juga KC Conception (Artis Filipina yang ikut nyanyi pembukaan SEA Games bareng Jaclyn dan Agnes Monica). Hampir semua Fakultas di perkenalkan Benny. Suasana UP persis UI di Depok. Puas keliling dan ngantongin beberapa info tentang beberapa fakultas, kami pun kembali kedunia Hura2.



Setengah jam kemudian, kami udah di Ayala Center di Makati. Ayala itu daerah bisnis di Manila. Poto2 sebentar, kita pun langsir cari makan. Lagi asik2 makan, beberapa teman Benny ngajak ketemuan. Jadilah kemudian aku kenal dengan pinoy2 lain yang kemudian aku kenal dengan nama Zandro dan Francis. Pas tau Benny lagi ngehost orang Indonesia, Temen2nya spontan ngajak ke karaoke. Benny bilang, lebih aman ngajak orang Indonesia ke Karaoke dari pada ke Disko. Soalnya, anak Jakarta terakhir yang datang ke Manila dan diajak ke Disko (Bar/Clubbing), pulang2 mabuk berat. Beda sama bule2 yang tahan mabuk karena udah biasa minum.

Jam 8 karoke pun mulai. Tadinya kita cuma booking 2 jam. Saking serunya, kita extend sampe 4 jam.... Kalap... semua lagu dinyanyiin. Kita karoekan pool-poolan... tau dong ya kalo orang Filipina suaranya bagus2. Gak ada istilah baling nada di mereka. Nyanyinya juga full improve dan gaya, bahkan Francis yang rada2 'cheersleader' sempet nyanyi lagu Britney Ooops I did it again plus koreo gila2an yang bikin kami semua ngakak... Sumpah itu malam karaoke terseru seumur2 yang ternyata juga di aminin sama Benny dkk. Mereka bilang mereka gak pernah karaoke seheboh dan sememalukan itu.... LOL

Sebenarnya Benny dan Zandro keliatan sedikit dizzy karena sempat minum 3 botol beer entah apa namanya itu, yang jelas rasanya kecut2 pait. Aku cuma malu2 sambil pesan jus Nanas..... Apa jadinya kalo aku dibawa clubbing ya... masa pesan jus Nanas juga... wakakakakakak.....

Subuh2.... Benny udah kayak Om2 diputusin pacar gelap dan dicampakkan istri tua... tampangnya udah kayak orang bingung karena masih kebawa mabuk tadi malam. Walaupun gitu, dia pun tetap nganterin aku ke terminal Pasay buat ke Clark. Padahal, Bus baru berangkat jam 8 pagi. Kita udah kayak sodara lama yang bakal pisah. Sayang kita sama2 cowok, jadi gak pake acara tangis2an dan peluk2an.... hahahahaha....... Benny bilang kapan2 bakal main ke Pekanbaru. Entah apa yang bakal dia liat di sini nanti... atau cuma basa basi aja....

Jam 8 teng Benny masih nugguin sambil cerita2. Bus pun datang dan penumpang disuruh masuk, aku pun pamitan dan sungguh pengen balik lagi nanti.... setelah drama dadah2an.... bus pun berangkat,,, persis berasa kayak anak kos yang lagi di lepas sama emaknya.. hahahaha.. lebay.....

2 jam, akhirnya nyampe lagi di Clark, Pampanga. Tempat dimana Airport yang bakal membawaku ke Kuala Lumpur buat kembali transit ke Pekanbaru. Bandara kecil ini mengingatkan 6 hari lalu waktu aku baru nyampe di sini dan buta banget soal Manila. Taunya, pulang2 aku udah punya sejuta cerita dan pengalaman yang bisa dikenang. Thats why i told you.... I Missed Manila..... And The People around....

Sampe sekarang Aku masih contact dengan geng Manila. Dan berjanji untuk balik lagi atau traveling bareng.... Betapa 6 hari disana sudah membuat Bahasa Inggris ku lumayan maju pesat.... once again.... Thas why i told you.... how i missed Manila.......

See you again in Manila on 2013....

The End......

Jumat, September 07, 2012

Bangkok Sabtu-Minggu

Mark terpekik histeris sambil bilang: " You are crazy!!!! What are you doing in Bangkok less than 24 hours??? " sambil terus menunjukkan ekspresi heran diatas mobil bus gratis yang membawa kami ke MBK.




MBK atau Mahboonkrong adalah tempat pertama di Bangkok yang kami kunjungi dengan tujuan makan malam. MBK kata Mark adalah Mall terbesar di Thailand, tempat dimana banyak anak muda Bangkok berkumpul. Gak ada yang special disana, kecuali Mall nya yang gede banget dan sambung-menyambung dengan Mall disebelahnya. Juga, Mall ini sering muncul di beberapa Film Thailand terkenal, kayak Suckseed.

Aku kenal Mark dari Benny, Host ku waktu di Manila. Mark adalah Mahasiswa Filipina yang sedang kuliah jurusan International Masters in Human Rights di Mahidol University, Thailand. Jadilah sepanjang jalan yang dia ceritakan tentang persamaan Hak dan pelanggaran HAM di ASEAN, untung gak pake nyinggung2 soal pelanggaran HAM di beberapa tempat di Indonesia. Satu tahun di Bangkok, udah lumayan ngebuat Mark bisa percakapan bahasa Thai sehari-hari, plus aksen dan dialek Thai yang kebanci2an itu.. hahaha...


Di MBK, aku udah wanti2 ke Mark buat cariin makanan halal dan khas Thailand, jadilah kami makan di semacam Food Court. Disana makanan halal dan non halal dipisah tempat jualnya. Cara bayar makannya juga lumayan unik. Kita musti beli semacam kupon, yang nantinya di tukarkan ketika memesan makanan di masing2 outletnya. Kuponnya seperti duit, tapi dengan nominal 1, 2, 5 atau 10, 25, 50 yang penggunaannya juga persis dengan uang, serta bisa di refund kalo masih bersisa. 

courtesy of josze.blogspot.com
Karena udah nyampe beneran di Bangkok, akupun tergoda buat nyobain Tom Yum aseli buatan Thailand. Tom Yum Aseli itu di sana namanya Tom Yum Kung (sama aja pun namanya ya..... ), isinya persis dengan Tom Yum di Indonesia: ada udang, baso ikan, cumi, batang serai, dan sedikit sayur entah apa namanya, ditambah wangi rempah yang aduhai dan daun jeruk yang segar...... tapi sayang, ekspektasi yang berlebihan di aroma, gak terbukti di rasa. Rasa Tom Yum nya sedikit berantakan di lidah aku... tapi, Mark bilang, rata2.... rasa Tom Yum memang kayak gitu di Thailand. Apalagi Mark bilang, entah kenapa Tom Yum yang di bikin di Indonesia emang lebih yummmmy, meski selalu pedas. Maybe, i'm not lucky yet....

thailand-travelonline.com
Puas makan, Mark ngebawa aku buat cari souvenir dan beberapa oleh2 di sana, jadilah kita ke tempat semacam pasar souvenir, karena disana banyak lapak yang jual macam2 souvenir mulai dari baju kaos bernuansa Bangkok dan Thailand, key chain, magnet kulkas, pin, sampe miniatur Budha atau Gajah putih kebanggaan mereka. Pokoknya, ini tempat bisa bikin kalap, untungnya aku bukan tipe pembobol dompet sejati, maka jadilah yang dibeli cuma baju kaos, key chain, miniatur budha, gajah2an, dan lain2.... (tolong jangan ditanya yang 'dan lain2' itu apa....)

Puas keliling belanja, gak kerasa udah jam 10 malam, yang artinya...... waktu buat balik ke hostel aku di Kaosan Road. Jalan dimana bejibun hostel dan tempat dimana banyak turis singgah dan rame se-rame2 nya kalo malam. Disana banyak Kafe, banyak yang jualan, dan banyak tempat massage ala Thai yang bertebaran, mulai dari yang kelas esek2 sampe kelas ecek2... ada yang Indoor dan ada juga yang bergelimpangan di teras atau pedestarian tokonya... dengan harga yang bervariasi... mulai dari 20ribuan Rupiah, sampe 250 ribuan. Mungkin tergantung tempat....... dan siapa yang mijit...

Emang sih, Bangkok udah dijadikan tempat yang turistik banget, tapi sayang.... seturis-turisnya Bangkok, mereka kurang banyak menggunakan Bahasa Inggris di Sign Board..... yang kemudian ngebuat aku bingung kalo mo kemana2, plus..... orang2 Bangkok kebanyakan gak bisa Bahasa Inggris, ngebuat kesan kalo Bangkok itu kota yang Ramah, tapi gak seramah keliatannya... (pendapat yang egotistical....)

Setelah ditinggal pisah Mark, jadilah aku luntang-lantung naik tuk2 di supiri abang2 berwajah separo China separo Jawa ke Kaosan. Malam itu Bangkok hujan gerimis (untungnya Benyamin S lahir di Jakarta, kalo lah dia lahir di Bangkok, pasti orang2 sana udah ribut nyanyiin 'eh ujan gerimis aje' dalam bahasa separoh Sansekerta,,, *hakss...) dan ngebuat perjalanan sekitar 15 menitan itu syahdu.... (ay ay.....iya pulak kata kelen  tuuuu). Bangkok lagi banjir2nya waktu itu, ada beberapa kawasan yang parah banjirnya, sampe mobil trontonpun bakal tenggelam separoh badan kalo lewat... dan banjirnya emang paling parah sepanjang masa...... itu sih kalo kata media2 sana. 

Di Hostel.... Ning, cewek owner hostel yang aku tumpangi baru selesai mandi. Katanya, dia kehujanan karena abis jalan2 dari luar. Hostel malam itu lumayan sepi, bule2 pada pijat plus2 kayaknya, karena cuaca mendukung... (*suudzooon ajaaaa... hahaha), Ning sambil nge- Hair Dryer rambutnya yang basah, basa basi ke aku. Dia nanya2 dari mana aja aku tadi, besok mau kemana aja. Dan sama seperti Mark, Ning juga kaget setengah mampus pas tau.... kalo aku yang baru nyampe jam 5 sore tadi, kudu balik besok siang ke Pekanbaru, itupun musti transit di LCCT sejam pula. Dengan kasihan, Ning akhirnya nawarin diri buat nyariin mobil carteran yang berangkat ke Suvarnabhumi 2 jam sebelum pesawat aku take off. Ning juga dengan baik hati bela2in minta diskon ke mereka. Sungguh, perasaan kasihan dan niat berbaik hati yang tulus.... walau sepele, tapi karena ceritanya ini aku lagi di luar negeri, dan gak kenal siapa sebelumnya Ning, jadi ngebuat aku mikir.... kalo kiamat ternyata masih bakal lama.... Soalnya, masih banyak orang2 baik di luar sana, bahkan dengan orang yang baru datang sore tadi di Negaranya dan bakal cabut besok siang entah kemana.... (terlepas dari Ning ngasih kesan yang baik secara dia Owner Hostel itu dan berharap buat aku rekom dia Hostel dia ke orang2...)

Puas cerita2 sama Ning yang Bahasa Inggrisnya lumayan lancar walau agak susah di mengerti karena dialek yang beda, hujan diluar pun reda. Akupun tergoda buat jalan2 ke luar, tentunya masih disekitaran Kaosan Road, Niatnya, cuman pengen ngeliat2 kehidupan malam di sekitar sana...... yang katanya makin malam, makin rame dan seru. Dan ternyata emang betul....


Sepanjang jalan, banyak yang jualan segala macam barang secara kaki lima. Ada tukang tato temporer,  yang buka lapak jongkok + majangin foto model2 tatoo idaman, ada penjual sosis babi goreng yang mungkin bau badan nya udah semerbak dan sebelas dua belas dengan aroma babi panggang, ada yang jual buah2 segar (catat... ini buah beneran!!! bukan buah yang lain yaaaaaa...), terusss... ada yang jual macam2 souvenir, sampe ada yang jual binatang peliharaan yang lucu2 kayak marmut, kelinci angora, atau anak ayam segala warna..... Orang2 pun beragam, China, Arab, Bule, Negro, semuanya komplit.... semuanya numplek di sepanjang jalan Kaosan yang rame itu, mereka tersebar dan terbagi di beberapa kafe, Panti Pijat, KFC, Burger King, sampe yang sibuk lalu lalang keluar masuk di 7eleven. Gak cuma itu, yang paling mengerikan dari itu semua adalah....... malam itu.... sehabis hujan..... berkeliaran lah banci-banci Thailand yang jendolan udah pindah dari selangkangan ke dada.... bahkan jakunnya pun gak keliatan lagi, mereka sebenarnya gampang dikenali kalo lagi ngomong... soalnya, suara ngebasnya kadang2 masih kedengaran...... nah, kalo mereka lagi berdiri ataupun kayang di tepi jalan, dijamin kita gak bakal  tau itu cewek apa kewec..... Satu lagi!!!!.... cara ngebedain seseorang yang diduga adalah seekor banci di Bangkok yaitu..... dengan menyuruh mereka 'split' dijalanan........ karena, kalo kita suruh dia split dan dia bisa... brarti kemungkinan besar dia adalah cewek tulen, atau banci yang tititnya masih utuh.... Soalnya, banci2 yang jendolan di selangkangannya, udah dibuang itu, dijamin gak bakalan bisa split......  karena pastinya itu mereka punya onderdil bisa hancur porak poranda sedemikian rupa, berantakan tak terkira...... (hahaahaha......astagaaanagaa.... namanya juga barang KW)

Besoknya....
Mengingat aku bakal di jemput sama mobil carteran dan di antar ke Airport sekitar jam 10 pagi, jadilah aku bela2in bangun pagi2 buta, buat sempat2in keliling..... minimal di sekitar Kaosan Road. Dari peta yang dikasi Ning, tempat terdekat yang bisa aku kunjungi di sana adalah Wat Phra Kaew Emerald Budha dan Grand Palace, bisa jalan kaki sekitar 5 menitan, atau ke Wat Arun yang ada diseberang sungai Chao Phraya. Jadilah dengan dibimbing Mark via SMS, aku pun berangkat dipagi  yang lumayan cerah itu ke Wat Phra Kaew Emerald Budha. Sayang,,,,,,, di sana aku cuma bisa ngintip2 aja dari luar, karena waktu itu gedungnya lagi di renovasi besar2an... jadilah dengan perasaan gundah gulana menahan kecewa, aku terusin jalan kaki lagi menuju Grand Palace. Grand Palace itu adalah istana raja yang gedenya ampun2an, dan aku sempat mutarin itu komplek,, cuman buat nyari pintu masuknya dimana... ini karena, lagi2 akibat petunjuk yang minim Bahasa Inggris,,,, dan yang paling parahnya.... ketika aku coba2 nanya ke Polisi yang kebetulan lagi patroli disekitar sana pake Bahasa Inggris yang sesopan mungkin, dijawab dengan antusias sama Polisinya dengan Bahasa Thailand yang lebih sopan lagi ditambah dialek mendayu dayu yang bagaimanapun dia mengucapkannya, kalo disuruh lebih milih mengerti atau mati, aku bakal lebih memilih mati pada saat itu, saking gilanya ngedengar jawaban Polisi itu yang aku sama sekali gak ngerti.... ataukah... sekurang turis-itu-kah aku ini, hingga seorang Polisi pun gak ngeh kalo aku ini bukan orang lokal.... udah cakep, pake kacamata hitam, plus celana pendek santai khas pelancong pula.... tetap masih dikira orang lokal... (*sokkece..sokoke)

Jadilah akhirnya, dengan menggunakan The Power of Sok Tau, aku pun meraba2 keberadaan pintu masuk Grand Palace dari Ilmu membaca peta tingkat Dewa, Dewa Iblis!!! Dan akhirnya... pintu masuk utama yang satu2nya dibuka itu pun ketemu, plus abang2 entah satpam entah tentara yang tegak dipos disebelah pintu sambil megang kemoceng... eh.... (*ngondek doonk...) megang apa ya,,,, lupaa....  naaah,,,, yang jelas... dengan pedenya aku langsung melenggang kangkung masuk itu Grand Palace tanpa pamit2 sama si abang.... (uh... babang..... hahaha....) yang tau2 dengan perkasanya langsung menghadang aku dan melarang masuk... WTF???!!! Kaget sih, soalnya yang lain pada lancar2 aja masuk... dengan sok cool, dia ngomong pake bahasa Thai yang agak macho tanpa kesan banci, dia ngomel sambil nunjuk2 selangkangan aku..... Anjriiiit......!!!! 
(*apa2 ini.......)  Eeeee... gak taunya aku gak dibolehin masuk gara2 pake celana pendek.... maka... pupuslah sudah ceritanya untuk masuk dan foto2 di dalam Grand Palace... dan ceritanya jadi pre-memory sampai di kunjungan ke Bangkok berikutnya... hehe..


Dari Grand Palace, aku pun melipir menyusuri jalan yang ujungnya ada di pasar yang separonya terendam banjir. Awalnya dipeta aku ngeliat ada semacam candi gitu diseberang sungai, langsir punya langsir, jadilah aku nyampe dipasar yang separo tenggelam itu di pinggir sungai, dan setelah ngeliat cara orang2 lain menyebrang ke seberang sungai Chao Phraya dimana ada Wat Arun disana, akupun mendekati mbak2 yang jual tiket buat nyebrang pake kapal pompong yang agak gedean itu. Sekali nyebrang di ganjar 10 bath atau cuma 3000an Rupiah.... ongkos yang murah banget ketimbang musti berenang menyebrangi itu Sungai, belum lagi bonus di makan buaya putih bermahkotakan delima merah di kepalanya... (buaya yang di incar Suzanna di pilemnya yang berjudul Ratu Buaya Putih...) *waduh...


Maka, jadilah aku menyebrangi Chao Phraya menuju Wat Arun yang dari kejauhan keliatan unik dan warna warni.... 

Chao Phraya adalah sungai utama di Thailand dengan panjang sekitar 372 kilometer. Sungai ini memiliki endapan aluvial yang rendah dan menyebar ke seluruh daratan Thailand. Aliran Chao Phraya berakhir di Teluk Thailand (wikipedia.red)

Wat Arun (bahasa Thai: วัดอรุณ, Candi Fajar) adalah candi Buddha (wat) yang terletak di distrik Bangkok Yai di Bangkok, Thailand, tepatnya di barat hulu sungai Chao Phraya. Nama panjang dari candi ini adalah Wat Arunratchawararam Ratchaworamahavihara (วัดอรุณราชวรารามราชวรมหาวิหาร). Wat Arun Rajwararam atau Temple of Dawn, diberi nama setelah Aruna, India God Dawn. Wat Arun dianggap salah satu yang paling terkenal dari banyak landmark di Thailand (wikipedia.red)

Gak banyak hal yang bisa di ungkapkan selain kagum dengan candi yang sedemikian rupa dilestarikan orang2 Thailand ini.  Walaupun juga karena Wat Arun adalah candi yang mungkin sampai sekarang masih jadi tempat sembahyang orang2 Bangkok. Kebukti turis2 yang berdatangan diwajibkan memakai pakaian yang sopan, minimal kita disuruh pake kain semacam sarung buat nutupin paha kebawah. Dan sekali lagi.... Wat Arun emang spektakuler, apalagi dari atasnya kita bisa ngeliat penampakan kota Bangkok yang aduhai, dan komplek Grand Palace yang bisa di intip dari seberang sungai. Dengan membayar karcis masuk yang cuma 50 Bath atau 15ribuan, dijamin bagi kita bakal ngerasa mendapat pengalaman yang luar biasa... (hanya bagi mereka yang bersyukur....)

Aku pribadi, waktu itu ngerasa sangat beruntung bisa menjelajah seiprit keindahan di Bangkok dalam waktu yang mepet,,,, dan berjanji suatu hari nanti aku bakal kembali lagi menjelajah Bangkok dengan waktu yang lebih mumpuni lagi,,,, 
tourism-of-thailand.com

Insiden Suvarnabhumi....
Terbuai dengan indahnya Wat Arun dan liukan Chao Phraya, ngebuat aku lupa waktu dan was2 bakal ditinggalin supir yang ngejemput di Hostelnya Ning buat ngantar ke Airport. Secara Kaosan Road sekitar 40 Menitan ke Bandara. Setibanya di Hostel, buru2lah aku beberes backpack yang tadinya isinya separo, kemudian melimpah-limpah dan beranak pinak jadi beberapa kantong hasil kekelapan di MBK dan Nite Market sepanjang Kaosan Road tadi malam. 

Tunggu punya tunggu, tiba2 datang lah abang2 berwajah Palembang-Jawa datang sambil ngomong entah apa ke aku yang lagi stand by bohay di lobi hostenya Ning. Ternyata, dialah 'babang-babang' supir yang sudah aku nantikan dan dambakan kedatangannya... (yuk,,, marreeeee.....)

Dan 30 menit diperjalanan pun dihiasi bunyi trung trang tang trung tung kruk kruk preet preeet..... dengan intonasi yang melambai-lambai.....

Nyampe di Suvarnabhumi, masih ada waktu 1 jam-an lagi sebelum boarding. Akupun masih terkagum-kagum dengan bandara yang gedenya ampun2an itu. Dari ujung keujung, bertebaran lah konter Airlines dari banyak negara, termasuk Airasia yang lumayan gampang dicari. Sayang, waktu itu konternya penuh karena nyampur dengan jadwal penerbangan lain. Jadilah antrian cek tiket dan boarding pass nya panjaaaaaaang banget.


Mengingat aku udah check-in online via website dan udah punya tiket fisik hasil print-an nya, dengan pede aku pun gak langsung antri buat cek tiket.... (ini adalah hal yang gak perlu dilakukan kalau kita berada di LCCT, karena setiap penumpang yang udah check-in online, dijamin bebas melenggang kangkung ke pesawat tanpa cek tiket dan pasport di konter AA. Gak tau kenapa di Suvarnabhumi gak sesimple LCCT...)

40 minute before take-off, aku udah berada diurutan 10 ngantri dikonter dan masih dengan PEDE-nya. Awalnya antrian berjalan lancar, gak taunya antrian jadi stuck di satu keluarga India yang bawa barang bejibun dan musti di masukin bagasi semua. Maka, terkangkang-kangkanglah mbak2 petugas bandara berwajah Amoy Asoy Geboy itu menimbang2 dan melakban-lakban travel bag dan tas2 mereka dengan selotip merah AA. Jadilah waktu terbuang 10 menit oleh mereka. Perasaan ketar-ketirpun muncul seketika seandainya aja dari 9 orang antrian didepan ada yang bikin wasting time..... dan bener, itu KEJADIAN!!!!!!!

Awalnya bapak2 China itu sendirian ngantri, ternyata giliran udah ke dekat konter  datanglah segerombolan keluarganya komplit yang juga minta dilayani, bahkan ada yang pake kursi roda segala. Maka, aku pikir tamatlah riwayatku di Bangkok saat itu dan keringat dinginpun mulai mengucur seiring waktu yang lagi running out...  Luckily.... mereka satu keluarga di pindahin ke konter lain dengan entah karena alasan apa, yang penting aku lega banget. Sesampainya aku di konter AA didepan mbak2 Amoy Asoy Geboy itu, waktu tinggal 20 Menit lagi sisanya. Lega..... 

Tapi, tiba2 mbak2 AA nya langsung ngomel pake dengan english yang tercadel2... "Wai al yu so leeet... yu syut bi hiyy wan awe befo boding taim... " dengan lugu aku jawab "I was here, but the queue are so slow......" yang lalu disambut dengan pelototan si Amoy. "den, nex taim yu syut be hiyy 2 ol tli awe befo !!!!!" aku diam, dia melotot lagi, aku senyum2, dia bolak-balik pasport, aku kentut, dia mati.... gak dink... aku menyeka keringat, diapun ngasi pasport dan tiketku yang udah dia cap sambil bilang.. " yu nid tu bi halli.. de plen wil be tek of soon, ai hop yu wel laki, go go go" katanya persis pembaca acara The Amazing Race. Dan aku pun ngacirrrrr...

You know what???? aku pun bingung nyari gate buat ke imigrasi.... tanya sana, tanya sini dengan panik yang lumayan diredam. Akhirnya loket imigrasi ketemu.... And you know what Again??? loket imigrasinya PE NUH....NUH.... NUH.... NUH..... dan antrian PAN JANG... JANG... JANG.... JAAAAAANG...... walau pun loketnya banyak, tapi dengan antrian sepanjang itu dan waktu yang tinggal 15 menit lagi (yang harusnya aku udah duduk manis dipesawat) aku musti menerima siksaan antrian panjang dan deraan perasaan dag-dig-dug yang mulai merosot ke HOPELESS..... *mama......akubakalngegembeldibangkooooookkkkkkk.........

Beruntungnyaaaaa..... imigrasi Thailand lancar banget (beda sama imigrasi di negara ANU yang suka curigaan nanya2 sama pasport Hijau......) 5 minit left.....

Dan 10 menit itu aku pakai buat lari2an nyari gate penerbangan ke KL.............

Lari-larian dengan ransel melimpah.......

Dengan tentengan ber-entah-entah........

Keringat dingin dan panas yang menggeraaaah.....

Daaaaan.....
Disambut dengan beberapa petugas AA yang siaga di simpang2 gate yang bantu nunjukkin gate sambil nanya2 mau kemana...... sekalinya aku bilang KL.... dia jawabnya..... "Hurry... Hurrry..... Run...... Run.......... " sumpah kayak adegan2 di Amazing Race.

Aimaaaak.... Sumpahlah..... itu gate rupanya diujuuuuuuuung beruuuungggg...... di ujung beneeeerrrr buuuuung,........ kaki rasanya mau copot lari2an.... bahu udah gak senonoh lagi bentuknya..... badan rasa mau tumbang... dan kepala mau copot...... itu beneran,,, capeeeeek.... deg degan,...... mau pingsan........

Rasanya kayak udah lari berkilo2... dan sumpah beneran ya... dengan kondisi luas Suvarnabhumi, aku rasa aku udah lari dari ujung keujung itu Bandara... saking jauhnya gate AA itu...

Dan lagi2 karena Tuhan Maha Pengasih, Lagi Maha Penyayang... Aku ternyata masih ditungguin sama petugas AA... mereka sempet aku dengar ngomong di handy talkienya bilang: 'the last passangers are here.... here.... ok... ok....' begitu.....

Di gate, aku masih di suruh lari2 lagi, soalnya pesawatnya gak dinaikin dari pintu Gate itu pake belalai kayak di beberapa Bandara lain, ternyata aku musti naik Shuttle Bus yang ngantar pesawat yang isinya udah penuh berisi 'rekan' satu tujuan yang menatap aku dengan berbagai pandangan seperti, heran, kesel, geram, pengen nampol, pengen mipisin, pengen jambak2. Gak ada satupun wajah bersahabat disana. 

Didalam Shuttle Bus, aku liat jam.... pas banget jam di tangan dengan jam di tiket..... 12.10.... dan aku bersyukur aku TEPAT WAKTU dan masih ditungguin... padahal harusnya (biasanya) pesawat jam segitu udah siap2 take off... (cobalah di Changi yang terkenal tepat waktu keberangkatannya...) disitu aku ngerasa Tuhan sayang sama aku... karena, kalo gak karena ijinnya, sudah dipastikan aku bakal ketinggalan itu pesawat hari itu....... TERIMAKASIH ALLAH......  

epilogue....
Aku sampai di LCCT tepat waktu.... dan kembali diburu2in naik pesawat ke PKU dengan jeda waktu 50 menit. Untungnya 20 menit sebelum jam ditiket aku udah di pesawat... lagi2 karena fasilitas check in yang bisa langsung naik kepesawat itu tanpa musti ke konter lagi.... And YOU KNOW WHAT AGAIN AND AGAIN??? pesawatnya berangkat lebih cepat 5 menit dari pada waktu ditiket... entah karena apa.... untungnya kejadiannya bukan di Bangkok...... 

dipotoin abang2 tuk2nya...
Add caption


melihat ke Grand Palace




loe

gue

END